www.paguyubanpulukadang.forumotion.net

myspace

2009 - 1430 H 

IndeksIndeks  ­PortalPortal  ­FAQFAQ  ­PencarianPencarian  ­AnggotaAnggota  ­GroupGroup  ­PendaftaranPendaftaran  ­LoginLogin  
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Latest topics
» Popularitas SBY Terganggu
Yesterday at 5:39 pm by Admin

» Anggodo Melenggang Bebas
Thu Nov 05, 2009 8:21 am by Admin

» Susno Mundur, Anggodo Ditahan
Wed Nov 04, 2009 5:42 pm by Admin

» Kapolri Harus Nonaktifkan Susno, Jaksa Agung Nonaktifkan Ritonga
Tue Nov 03, 2009 11:03 pm by Admin

» Langkah Konkret SBY Dinanti
Mon Nov 02, 2009 4:32 pm by Admin

» Tiga Solusi Diusulkan kepada Presiden
Mon Nov 02, 2009 7:59 am by Admin

» Rasa Keadilan Publik Terkoyak
Sat Oct 31, 2009 8:31 am by Admin

» Dalam 100 Hari, SBY Akan "Dihadiahi" Angket Bank Century
Tue Oct 20, 2009 6:11 pm by Admin

» Pentagon Pasok Bom-Bom Canggih Buat Israel
Thu Oct 08, 2009 12:53 am by Admin

» Warga Setujui Kuburan Massal
Wed Oct 07, 2009 6:54 pm by Admin

» Birokrasi Hambat Distribusi
Wed Oct 07, 2009 6:50 pm by Admin

» Bencana Gempa Akan Terus Terjadi
Mon Oct 05, 2009 7:38 am by Admin

» Padang Porak Poranda
Thu Oct 01, 2009 11:57 pm by Admin

» Iran Sukses Tembak Rudal Berdaya Jangkau hingga Israel
Mon Sep 28, 2009 4:39 pm by Admin

» PBB dan AS Dikecam
Fri Sep 25, 2009 7:24 am by Admin

» Muntahar al Zaidi: Mengapa Saya Melemparkan Sepatu Kepada Bush
Thu Sep 24, 2009 11:44 pm by Admin

» Segitiga Bermuda: Misteri Dibalik Samudera Atlantik
Thu Sep 24, 2009 11:40 pm by Admin

» Presiden Berhentikan Bibit Samad dan Chandra Hamzah
Tue Sep 22, 2009 6:58 pm by Admin

» Sisi Gelap Harry Potter
Fri Sep 18, 2009 10:59 pm by Admin

» Demi Efisiensi, Cukup 25 Menteri Saja, Pak Presiden
Wed Sep 16, 2009 11:15 pm by Admin

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Share | 
 

 Muslim Di Jepang

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting: 2148
Registration date: 31.08.08

PostSubyek: Muslim Di Jepang   Fri Jul 03, 2009 8:54 am

Muslim Di Jepang




Tanpa terasa, selama beberapa tahun tinggal di Jepang ini, entah sudah berapa kelompok belajar agama Islam bersama teman muslim Jepang yang saya ikuti. Diiringi niat untuk menambah pengetahuan agama dan sekaligus menemani suami belajar, saya mengembara dari satu kelompok belajar ke kelompok belajar yang lainnya, lengkap dengan segala pernak-perniknya. Diantara kelompok belajar tersebut, ada yang masih terus sampai sekarang, ada yang antara hidup dan mati, tapi ada juga yang terhenti begitu saja.

Menurut pengalaman dan pengamatan saya selama ini, yang paling menonjol dan patut disyukuri adalah semangat berdakwah yang sangat tinggi dari teman-teman muslim berbagai negara yang kebetulan tinggal dan belajar atau bekerja di Jepang. Penulis sering dibuat terharu dengan ketulusan teman-teman yang rela meluangkan waktunya ditengah kesibukan keluarga dan belajarnya untuk berdakwah. Namun sayang sekali karena semangat dakwah yang tinggi tersebut kadang bagai gayung tak bersambut.

Satu-satu semangat belajar peserta menyurut dan meninggalkan kelompok belajar karena merasa tidak terakomodasi kebutuhannya.

Semangat dalam berdakwah sudah tentu sangat diperlukan untuk kelancaran dakwah. Akan tetapi, semangat saja rasanya belum cukup tanpa diimbangi oleh sensitifitas dan pengetahuan penunjang dibidang-bidang lain yang mungkin sangat erat berkaitan dalam menunjang kelancaran dan efektifitas berdakwah, seperti latar belakang peserta, prioritas materi dakwah, target dakwah maupun sensitifitas terhadap lingkungan dan budaya setempat.

Latar Belakang Peserta: Para mualaf Jepang tersebut masuk Islam ketika sudah dewasa dengan berbagai macam latar belakang.

Kenyataan ini tentu membawa dampak dalam keber-islaman dan cara orang Jepang mengenal & mempelajari Islam termasuk prioritas materi yang ingin dipelajari.

Sebagai contoh kasus adalah orang Jepang yang telah menjadi muslim sejak mereka sekolah dan memperdalam Islam di sekolah; dengan orang Jepang yang mendapat hidayah melalui pintu pernikahan. Kedua kasus ini tentu akan mempengaruhi cara dan bahkan prioritas materi yang harus diajarkan.

Untuk kasus yang pertama, beberapa kajian Islam dasar seperti fikih bersuci, sholat, pembahasan tentang rukun Islam, rukun Iman mungkin bukan menjadi prioritas utama. Tapi untuk kasus kedua (mendapat hidayah masuk Islam melalui pintu pernikahan) dan belum sempat memperdalam pengetahuan Islamnya, pengajaran tentang fikih bersuci (terutama wudhu & mandi janabah) dan belajar menyempurnakan bacaan & gerakan sholat menjadi poin-poin yang sangat penting untuk didahulukan karena terkait dengan ibadah sehari-hari yang harus dikerjakan.

Sepertinya, sudah saatnya untuk mengubah sistem pembelajaran yang “memukul rata” kebutuhan siswa dengan sedikit menggali latar belakang mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Alternatif lainnya adalah dengan menyebarkan angket analisis kebutuhan belajar; ataupun berbincang-bincang secara langsung dan santai tentang poin apa saja yang bisa ditawarkan (dengan mempertimbangkan latar belakang mereka) maupun bertanya tentang apa yang ingin dipelajari. Informasi ini bisa didapat langsung dari teman-teman mualaf ataupun melalui pasangannya (suami/istri).

Prioritas Materi Dakwah dan Kebiasaan Orang Jepang yang Suka Membaca

Pendapat sementara orang bahwa mualaf Jepang adalah mereka yang pengetahuan agamanya masih kurang sepertinya perlu sedikit dikoreksi dan bahkan bila perlu dipertimbangkan kembali; meskipun mungkin hal tersebut ada kalanya benar. Hal ini terkait dengan sifat dan karakter dasar orang Jepang yang gemar membaca.

Dalam beberapa kasus, sebelum masuk Islam, orang-orang Jepang akan membaca terlebih dahulu ilmu pengetahuan dan literature apa saja yang berkaitan dengan Islam sampai mereka merasa mantap dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Saya seringkali dibuat kagum dan terkejut sekaligus terharu saat menemui teman-teman muslim Jepang yang relatif masih “baru” beragama Islam dibanding saya tapi MashaAllah, pengetahuan dan praktek beragamanya sangat bagus.

Sampai-sampai saya sering bertanya ke diri-sendiri “Apa saja yang sudah aku dalami selama ini ya?, rasanya masih belum sebanding benar dengan mereka yang relatif masih baru berislam”.

Ada sebuah contoh kasus dimana seorang guru besar dari sebuah negara Islam mengajarkan Alif, Ba secara terus-menerus selama hampir 6 jam atau lebih (3x pertemuan) dan membuat semangat belajar kami menurun drastis padahal sebelumnya kami sangat berharap banyak dari beliau yang kami anggap sangat mumpuni pengetahuan agamanya.

Standar Target Pengucapan Bahasa Arab/ Huruf Hijaiyah

Disadari atau tidak, tiap-tiap kita pasti punya ciri khas kebahasaan yang membuat kita lebih mudah ataupun lebih sulit untuk mempelajari suatu bahasa baru yang bukan bahasa ibu kita ataupun bahasa sehari-hari kita. Meskipun hal tersebut bukan merupakan alasan untuk menjadi tidak mahir berbahasa karena dengan kemauan yang kuat dan latihan yang cukup, InshaAllah kita akan dapat menguasai bahasa asing yang bukan bahasa ibu kita.

Maksud saya mengingatkan kembali akan ciri khas kebahasaan tersebut tak lain adalah bagi siapapun yang kebetulan mendapat amanah mengajar membaca Al-Qur’an ataupun huruf hijaiyah kepada teman-teman Jepang; alangkah bijaksananya bila pengajar tidak terpaku pada pengucapan satu huruf yang memang kebetulan sulit untuk lidah non-arab, dan terus melanjutkan pelajaran sambil sesekali diulang kembali bagian-bagian yang memang sulit untuk beberapa murid yang berbeda pada waktu-waktu yang lainnya.

Sebab bila pelajaran hanya hanya difokuskan pada satu huruf saja, kemungkinan hilangnya minat belajar hanya tinggal menunggu hitungan waktu saja. Pengalaman pribadi dicecar untuk mengucapkan huruf hijaiyah sampai memenuhi standar pengajar yang berdialek Mesir membuatku kehilangan semangat untuk terus belajar dan ternyata dikemudian hari aku juga tahu bahwa teman-teman Jepangku-pun punya perasaan yang sama.

Sensitifitas terhadap Lingkungan dan Budaya Setempat: Menghindari Topik-topik Sensitif

Menurut hemat penulis, berdakwah itu tidak harus lewat majelis perkumpulan resmi saja tapi bisa juga lewat prilaku dan tutur kata kita saat bergaul dengan saudara seiman di Jepang maupun yang tidak seiman. Dalam beberapa kesempatan, penulis seringkali menjumpai teman-teman yang asyik berdiskusi tentang kaum kafir, surga & neraka, atau pusat perjudian yang menjamur di Jepang ini. Dan secara tidak sengaja pembicaraan akan merembet ke kebiasaan/budaya orang Jepang yang tentu saja berbeda dengan mereka padahal disitu hadir juga para muslimah atau muslim Jepang.

Terus terang saja, saya pribadi merasa tidak nyaman bila berada dalam situasi seperti tersebut diatas; karena secara kebetulan saya berkesempatan mengamati raut muka dan ekspresi teman muslim Jepang saat mendengarkan percakapan mereka. Dan sepertinya perubahan ekspresi tersebut luput dari perhatian teman-teman yang sedang asyik berbincang-bincang dan mengkritisi kebiasaan orang Jepang pergi ke pacinko. Ada rasa tidak enak yang menyelimuti hati dan perasaan saya melihat perubahan wajah teman Jepang tersebut. Sekali, dua kali hal itu terjadi begitu saja sampai suatu ketika saya berkesempatan untuk bicara dari hati ke hati disebuah forum yang dihadiri oleh seorang muslimah Jepang yang juga dosen agama Islam di sebuah Universitas di Kyoto.

Dengan hati-hati saya bertanya ke sister tersebut tentang bagaimana tanggapannya bila kebetulan ada orang-orang yang berbicara tentang topik-topik seperti kaum kafir, surga & neraka, atau pusat perjudian di Jepang ini. Jawaban yang kudapat sungguh sangat mengesankanku sampai sekarang.

Sister itu terlebih dulu menarik nafas dalam dan sedikit bergetar saat memulai berbicara karena menahan suatu perasaan yang aku sendiri sulit melukiskannya.

“What do they know about our feeling? Most of our relatives are still non-muslim and we know the consequences for them. I hope that people can be more sensitive about others’ feeling. Never think that just because they are muslim, then they will go directly to heaven without being judged first on what they have done in their whole life!”

Sebuah jawaban yang menyentak alam bawah sadarku dan menembus ulu hatiku. Tiba-tiba aku dapat merasakan kepedihan mendalam yang dirasakannya dalam setiap untaian katanya. Ya Allah ampunilah hamba bila secara tak sengaja pernah berbuat hal serupa (menyakiti hati saudara) atau bahkan orang terdekatku dimasa lalu karena kebodohanku.

Akhirnya, tak ada gading yang tak retak. Semoga catatan singkat tentang hal-hal yang mungkin berkaitan erat dalam menunjang kelancaran berdakwah di Jepang ini bisa memberikan sumbangan bagi kepentingan dakwah, InshaAllah, amin.


Fukuoka, Februari 2009. Umi Shandi; Alumni The University of Melbourne, Australia Master of Education Alamat Tinggal: Fukuoka, Jepang

Era Muslim
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting: 2148
Registration date: 31.08.08

PostSubyek: Re: Muslim Di Jepang   Fri Jul 03, 2009 8:58 am



Bangunan megah yang telah lama menjadi impian setiap umat Islam di Fukuoka itu kini berdiri tegak dihadapanku dengan sejuta pesonanya. Bangunan Masjid Fukuoka yang terdiri dari 4 lantai dengan luas kurang lebih 120 meter persegi itu kelihatan megah sekali.

Saat pertama kali masuk kedalamnya, ingatan saya langsung kembali ke beberapa tahun lalu. Betapa waktu itu semua saudara seiman berjuang keras dan bahu-membahu dari mulai proses ide pembangunan, penggalangan dana, pencarian lokasi, pendirian bangunan hingga akhirnya memasuki tahap sekarang ini. Tahap peresmian formal yang jatuh pada tanggal 12 April 2009 yang akan datang.

Terbayang kembali betapa pengorbanan waktu, tenaga, pemikiran maupun materi dari para pelopor dan pelaku aktif pendirian bangunan itu seperti terukir jelas di setiap sudut bangunanannya. Terlebih lagi kokoh dan indahnya desain bangunan yang serasa melukiskan kokoh dan indahnya persatuan teman-teman yang harus menempuh perjuangan yang panjang dan berliku. Dan semua pengorbanan tersebut serasa membuahkan hasilnya dengan berdirinya Masjid An-Nour yang sekarang ada ini.




Alhamdulillah, betapa saya termasuk salah satu dari sekian banyak muslim Fukuoka yang merasa sangat terbantu dan berterima kasih dengan adanya masjid ini. Berbagai agenda kegiatan dan program keislaman langsung menari-nari dikepala. Tekat untuk tidak menyia-nyiakan jerih payah para penggagasnya serasa menjadi sebuah tanggung jawab yang tidak terelakkan lagi. Sebuah tanggung jawab dan sekaligus amanah yang tidak ringan untuk menjaga bangunan semegah An-Nour agar tetap indah, dan bisa berfungsi maksimal sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pelopornya. Sebuah amanah yang melahirkan tantangan-tantangan tersendiri agar dakwah Islam bisa lebih bergaung di bumi Sakura ini.

Beberapa tantangan yang tampak jelas didepan mata dan saya rasa memerlukan kesungguhan untuk menjawabnya adalah beberapa tantangan berikut ini.

Kebersihan

Tantangan kebersihan merupakan PR tersendiri yang harus segera dipikirkan jalan keluarnya. Masjid An-Nour berdiri tegak ditengah lingkungan masyarakat yang memiliki tingkat kesadaran sangat tinggi akan kebersihan dan kecantikan lingkungan. Sudah bukan rahasia lagi bila (maaf) di beberapa kegiatan keislaman yang kami ikuti, kebersihan selalu menjadi masalah tersendiri. Entah sudah berapa kali saya dan teman-teman menyaksikan dengan mata kepala sendiri sampah dan bekas makanan anak-anak yang ditinggalkan begitu saja selepas acara. Kami mencoba berbaik sangka bahwa mungkin sang Ibu terlalu repot dengan anak-anaknya, hingga tidak sempat atau lupa membersihkan bekas makan anaknya yang berjatuhan di lantai. Masalah sampah ini juga kadang merupakan ujian kesabaran tersendiri.

Ujian itu muncul tatkala ada saudara yang dengan santainya menjatuhkan sampah ke lantai; dan hanya melihat sepintas pada kami yang tengah memunguti bekas-bekasnya satu-satu. Sungguh sebuah kenyataan yang ironis karena disatu sisi kita meyakini dan bangga dengan ajaran Islam yang indah. Salah satunya adalah ajaran bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Tapi dalam prakteknya, kita masih harus belajar dari tetangga dan lingkungan kita yang notabene bukan muslim; dan juga tidak tahu tentang salah satu keindahan ajaran Islam tersebut. Rasanya ingin sekali saya menganjurkan agar tiap Ibu membawa serta satu kantong plastik didalam tas bawaannya; hingga tiap Ibu bisa memunguti sampah kecil anak-anaknya sebelum menemukan tempat sampah yang sebenarnya.

Satu lagi adalah, saya berharap sekali ada semacam kegiatan kerja bakti rutin yang tidak hanya dilakukan di dalam masjid; tapi juga di lingkungan sekitarnya seperti kebiasaan orang Jepang disini. Tujuannya adalah memberikan manfaat sosial kepada masyarakat disekitar masjid. Masyarakat yang sebelumnya sempat dilanda keragu-raguan sebelum menyetujui didirikannya masjid di lokasi tersebut. Lebih jauh lagi, sebenarnya program kerja bakti tersebut bisa dipakai sebagai sarana dakwah yang efektif dan nyata meskipun tanpa kata-kata.

Manajemen dan Koordinasi Kegiatan

Entah mengapa, di beberapa kegiatan keislaman yang sempat saya ikuti; sungguh terasa kalau kegiatan yang dilaksanakan memberikan kesan bahwa koordinasinya masih perlu ditingkatkan lagi. Sebuah seminar keislaman, dengan pembicara terkenal dari sebuah negara dibelahan benua Amerika Utara, merupakan salah contoh terjelas akan adanya kekurangan tersebut. Pembicara tersebut hanya bisa berbahasa Inggris sementara target pesertanya adalah orang Jepang. Saya tidak tahu apa sebabnya, sampai panitia penylenggara belum bisa mendapat atau mencari seorang interpreter untuk acara sebesar itu. Yang saya tahu kemudian, wakil panitia berusaha minta tolong rekan mualaf yang kebetulan berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris dan sudah pernah beberapa tahun tinggal diluar negeri.


Sepekan sebelum seminar, panitia menjanjikan untuk mengirimkan makalah yang akan dipresentasikan agar sempat dipelajari terlebih dahulu. Janji tersebut baru terlaksana tepat satu hari menjelang seminar dan rekan mualaf tersebut tidak punya cukup waktu untuk mendalami makalah yang lumayan panjang. Makalah untuk seminar sehari!

Bisa dibayangkan betapa kalang kabutnya rekan mualaf tersebut. Apalagi topik yang menjadi bahasan utama tergolong topik yang sangat sensitive dan mengandung banyak istilah teknis keislaman yang perlu pendalaman. Kejadian berikutnya tentu sudah bisa diprediksi.

Banyak peserta yang pulang ditengah jalan, sementara rekan mualaf yang bertugas sebagai interpreter tersebut merasa sangat malu dan bahkan sempat kapok dimintai tolong lagi. Butuh waktu yang lama untuk mengembalikan kepercayaan rekan tersebut agar mau kembali aktif terlibat dalam acara-acara keislaman. Sungguh sangat disayangkan. Padahal sebenarnya topik seminarnya sangat bagus dan akan sangat berguna dalam mengurangi rasa sentimen terhadap umat Islam yang sangat mendalam saat itu. Sentimen yang muncul pasca pemboman WTC oleh pihak tak bertanggung jawab.

Saya berharap bahwa kejadian seperti diatas tidak akan pernah terulang lagi meskipun saya juga menyadari bahwa itu bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu mengingat bahwa setiap kegiatan keislaman biasanya dimotori dan digerakkan oleh para mahasiswa yang pastinya juga sangat sibuk dengan urusan belajar dan juga keluarganya.

Disini terasa sekali perlunya melibatkan juga orang lokal muslim meskipun itu juga bukanlah hal yang mudah. Memang jadinya serba dilematis. Terutama bila kita mengingat bahwa saudara Jepang muslim itu sendiri tidak bisa secara otomatis ikut ambil bagian dalam kegiatan keisalaman kecuali beberapa gelintir saja. Hal ini lebih didasari pada karakter sebagian orang Jepang yang sangat pemalu dan tidak gampang berbaur dengan lingkungan baru (islam) yang mungkin saja sangat jauh berbeda budayanya dengan lingkungan asalnya.

Akan tetapi di atas semua itu, saya positif bahwa dengan niat yang sungguh-sungguh dan pendekatan yang tepat, InshaAllah kita akan bisa meningkatkan manajemen dan koordinasi di setiap kegiatan. Termasuk dalam usaha melibatkan lebih banyak sudara muslim lokal. Hingga dengan demikian, setiap usaha dakwah bisa mengenai sasarannya secara lebih efektif, InshaAllah.

Akses Informasi yang Cepat dan Akurat

Yang masih erat kaitannya dengan tantangan manajemen dan koordinasi seperti diuraikan diatas adalah akses dan penyebaran informasi. Beberapa rekan muslimah Jepang yang kebetulan tidak bersuamikan mahasiswa seringkali mendapat kesulitan dalam mengkses informasi yang berkaitan dengan kegiatan keislaman. Hal itu juga terjadi pada beberapa rekan muslimah non Jepang, yang bersuamikan orang Jepang dan bukan mahasiswa. Betapa besar keinginan sebagaian saudara tersebut untuk ikut aktif berpartisipasi maupun belajar bersama dalam kegiatan keislaman tetapi seringkali informasi tidak sampai kepada mereka.

Dan setelah melalui beberapa pengamatan, saya berkesimpulan bahwa tidak sampainya informasi itu kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal dibawah ini.

1. Tiap orang beranggapan bahwa pasti semua orang sudah tahu.
2. Yang mendapat amanah untuk meneruskan informasi ternyata lupa karena kesibukannya, atau belum sempat mengecek informasi yang sampai kepadanya.
3. Informasi memang hanya berputar dikalangan tertentu saja dan tidak sempat diteruskan.
4. Kendala bahasa atau kendala lainnya yang mungkin tidak sempat saya tangkap.

Oleh karena itu, saya sangat berharap bahwa kedepannya akan ada suatu jalan keluar agar akses informasi bisa lebih mudah terutama bagi mereka yang memang ingin sekali bergabung untuk menyumbangkan tenaga dan pemikirannya bagi kepentingan dakwah; maupun mereka yang sekedar ingin bergabung untuk belajar bersama.

Budaya Tepat Waktu

Saya sangat menyadari bahwa budaya dimana saya dibesarkan cukup terkenal akan konsep waktunya yang sangat elastis alias lentur bak karet. Setidaknya itulah pelajaran pertama di bangku kuliah saya yang membuat saya tersinggung dan sekaligus tersadar akan kondisi diri. Sebuah pelajaran Pemahaman Lintas Budaya (Cross Cultural Understanding) yang dibawakan oleh seorang dosen dari Amerika. Saya tersinggung kami dicap sebagai bangsa tukang ngaret tapi tidak sempat mengungkapkan perasaan saya karena keterbatasan nyali waktu itu, yang kemudian tertutupi juga oleh kesadaran akan sebuah realitas diri dan lingkungan saya.




Waktu terus berlalu dan saya mulai berusaha untuk menghilangkan cap itu, setidaknya dari diri sendiri. Dan seiring berjalannya waktu, entah sudah berapa kali saya mendengar komentar-komentar serupa tentang kebiasaan orang Indonesia yang satu itu. Akan tetapi saya sudah mulai lebih bisa menerima anggapan-anggapan yang melekat pada budaya kami meskipun tetap merasa tidak nyaman.

Akan tetapi, setelah sekian lama saya berusaha berbesar hati untuk menerima kritik atas budaya tersebut; rasa ketersinggungan saya muncul lagi tanpa bisa kuhindari. Suatu hari, kami hendak mengikuti sebuah acara keislaman. Kami memutuskan untuk berangkat bersama-sama dengan sebuah keluarga muslim Jepang.

Saat bersiap-siap hendak berangkat, tiba-tiba teman Jepang tersebut berujar ke suami saya, “Tidak usah terlalu tepat waktu Brother, karena orang Islam kalau mengadakan acara biasa terlambat jamnya”. Sebuah ungkapan datar yang mungkin diungkapkan dengan tanpa beban tapi serasa menusuk jantung saya. Saya berjuang untuk menahan rasa marah saya yang serasa sudah diambang batas. Saya marah sekali karena identitas Islam yang dikaitkan dengan budaya terlambat, padahal saya yakin bahwa itu semua tergantung individu masing-masing.

Satu lagi pelajaran berharga saya petik. Bahwasanya disadari atau tidak, tiap-tiap diri kita ini, mempunyai peluang yang sama untuk mewarnai potret islam. Potret islam bisa menjadi semakin bersih dan cemerlang karena keindahan ajaran dan ketakwaan pemeluknya; atau justru semakin suram karena tindakan beberapa oknum yang tidak mencerminkan ajaran Islam. Bahkan mungkin ia sebenarnya juga tidak sedang bermaksud secara sengaja untuk mewakili Islam dalam bertindak. Akan tetapi karena dia termasuk dalam komunitas Islam, orang akan langsung mengaitkannya dengan status keislamannya. Apalagi untuk lingkungan seperti di Jepang ini, dimana agama dan budaya Islam relatif baru untuk lingkungan masyarakatnya.

Akhirnya, saya bermaksud mengakhiri catatan pengajian kali ini dengan sebuah doa. Semoga tantangan-tantangan dakwah dinegara maju ini, bisa kami lalui dengan bimbingan dan pertolongan dari Allah SWT, InshaAllah, amin. Dan semoga Allah SWT selalu menyatukan hati dan tekat kami untuk selalu berjuang di jalan-Nya, InshaAllah, amin.

Fukuoka, Penghujung Awal April 2009

Terima kasih kepada para penggagas & pejuang berdirinya Masjid Fukuoka Thank you Kang Nana untuk sumbangan fotonya.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting: 2148
Registration date: 31.08.08

PostSubyek: Re: Muslim Di Jepang   Fri Jul 03, 2009 9:07 am



Pada hari Sabtu minggu lalu, tepatnya tanggal 27 Juni 2009, Fukuoka Masjid membuka kelas masak untuk yang pertama kalinya. Kelas masak tersebut bertujuan untuk memperkenalkan budaya Islam melalui makanan. Disamping itu, sebenarnya kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai salah satu dakwah sosial ke masyarakat disekitar Masjid agar mereka juga berkesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan Masjid yang notabene berada dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Harapan lainnya adalah terjalinnya komunikasi dan kehidupan bertetangga yang lebih harmonis.




[img]Kelas pertama tersebut dibagi menjadi 2 kelompok (putra dan putri) dengan menawarkan menu Indonesia. Pertimbangan untuk memilih menu dari Indonesia lebih didasarkan pada masukan dari saudara muslim Jepang., Menurut mereka, menu Indonesia sampai saat ini merupakan salah satu menu internasional yang paling dikenal dan disukai oleh orang Jepang. Adapun menu yang ditawarkan adalah sop daging, martabak telur, tempe goreng, krupuk udang dan sambal terasi.




embukaan acara kelas masak dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an surat Al Hujuraat ayat 13; setelah didahului dengan pengenalan dan ulasan singkat dari pembawa acara bahwa sebagai orang Islam kami mempunyai pedoman kitab suci yang dibaca setiap hari. Terjemahan dari ayat tersebut juga dibacakan dalam bahasa Jepangnya. Sekilas uraian dan penekanan diberikan pada sebagian kandungan makna ayat tersebut, yaitu Allah yang menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal. Dan sejalan dengan itu pulalah acara masak diadakan sebagai media untuk saling berkenalan meskipun kami berasal dari bangsa dan agama yang berbeda Setelah itu, acara dilanjutkan dengan perkenalan singkat tentang instruktur masak dan dialog informal sambil menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.




Dalam dialog informal itu, beberapa informasi menarik dapat digali dari peserta. Berikut adalah beberapa diantaranya. Seorang peserta mengungkapkan dengan penuh kekuatiran bahwa dia tidak suka makanan yang memakai bumbu bawang putih; karena tidak suka baunya. Beberapa lagi mengungkapkan bahwa mereka tidak menyukai makanan yang berminyak (gorengan). Beberapa ungkapan yang sempat membuat kami sedikit mencemaskan menu yang kami tawarkan.




Akan tetapi, semua ungkapan keraguan diatas sirna seketika saat makanan telah selesai dimasak bersama-sama dan siap untuk disantap. Beberapa komentar yang melegakan sudah mulai bermunculan pada saat mencicipi masakan. Pancaran bahagia dan rasa puas dari peserta sudah mulai kelihatan jelas. Dan keraguan tersebut hilang tuntas saat bersantap bersama. Para peserta kelihatan sangat menikmati hidangan dari hasil memasak bersama tersebut sambil beberapa kali mengucapkan kata enak.




Diakhir santap bersama, tiap peserta memberikan kesan dan pesan tentang kelas masak hari itu. Alhamdulillah, tidak ada satupun komentar negatif. Seorang peserta yang tadinya anti bawang putih berkata bahwa dia sekarang menyukainya karena ternyata bau bawangnya berubah jadi aroma yang harum dan melezatkan masakan. Sedangkan peserta yang tadinya meragukan menu gorengan-pun berucap bahwa martabak dan tempenya enak sekali. Yang diluar dugaan adalah respon peserta terhadap sambal terasi.




Sambal terasi yang sedari awal hanya dimaksudkan sebagai menu ekstra tapi mendapat sambutan luar biasa. Anggapan saya selama ini bahwa kebanyakan orang Jepang tidak suka pedas terkikis pada hari itu. Sambal terasi yang saya perkirakan akan sisa banyak dan dapat digunakan untuk pengajian hari minggu ternyata malah nyaris tak bersisa.




Yang paling menggembirakan diatas semua itu adalah ungkapan jujur beberapa peserta yang merasa mendapat kesan lain tentang muslimah berkerudung setelah bergabung dan berinteraksi langsung dengan kami. Nampaknya mereka mempunyai kesan lain tentang muslimah berkerudung sebelumnya. Disamping itu juga beberapa pertanyaan seputar makanan halal yang sempat dilontarkan oleh peserta saat dialog santai.

***

Hari itu peserta pulang dengan membawa kesan baik dan berharap untuk bisa ikut serta bila ada kelas masak lagi di waktu mendatang. Sementara, tim penylenggara bersyukur karena acara kelas masak berjalan lancar dan terbilang sukses. Semoga acara masak berikutnya bisa ditampilkan dalam kemasan dakwah yang lebih efektif dan menarik, InshaAllah, amin.

Satu hari berikutnya, tulisan tentang liputan kelas masak di Masjid Fukuoka sudah terpampang manis di harian lokal Jepang, lengkap dengan kesan sang wartawan tentang enaknya makanan halal yang disantapnya. Fukuoka, 1 Juli 2009 Umi Shandi Divisi Keputrian, Fukuoka Masjid
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
 

Muslim Di Jepang

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions of this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.paguyubanpulukadang.forumotion.net :: Berita :: Dunia Muslim-