www.paguyubanpulukadang.forumotion.net


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Latest topics
» Kudeta Hancurkan Bangsa
Tue Oct 19, 2010 3:27 pm by Admin

» SBY Bertemu 7 Pimpinan Lembaga Negara di MPR
Mon Oct 18, 2010 3:18 pm by Admin

» Urbanisasi Tak Terbendung, Jabodetabek Makin Kumuh
Thu Oct 14, 2010 3:26 pm by Admin

» HALAL BIL HALAL 1431H KERUKUNAN KELUARGA BESAR JATON JAKARTA ( KKBJJ )
Mon Oct 11, 2010 9:25 am by Admin

» HALAL BIL HALAL 1431 H PKBP JABODETABEK
Mon Oct 11, 2010 9:23 am by Admin

» Yang Kami Tolak Bukan Kristen, Tapi Kristenisasi
Thu Sep 23, 2010 6:32 pm by Admin

» 5,4 Juta Komuter Serbu DKI Jakarta Setiap Hari
Thu Sep 23, 2010 6:29 pm by Admin

» Gila! Al Quran Jadi Dibakar di Amerika
Sun Sep 19, 2010 3:49 pm by Admin

» PROJECT BLUE BEAM
Mon Sep 13, 2010 5:55 pm by Admin

» Demokrasi Belum Wujudkan Kesejahteraan dan Keadilan
Sun Aug 15, 2010 7:21 pm by Admin

» Potret Kemiskinan Indonesia 69% Pekerja Ada di Sektor Informal
Fri Aug 06, 2010 2:17 pm by Admin

» Mengenal Lebih Dekat Hepatitis
Wed Jul 28, 2010 11:39 pm by Admin

» Alasan Sesungguhnya Mengapa AS Menyerang Iraq
Tue Jul 20, 2010 11:04 am by Admin

» AS Rahasiakan Obat Kanker dari Buah Sirsak
Tue Jul 20, 2010 9:18 am by Admin

» Politik Anggaran, Prorakyat atau Birokrat?
Mon Jul 19, 2010 5:52 pm by Admin

» Bingung Pastikan Arah Kiblat? Klik Qibla Locator
Sun Jul 18, 2010 8:10 am by Admin

» Inilah Kisah Ilyas dalam Injil Barnabas
Fri Jul 02, 2010 10:03 pm by Admin

» Pasar Taruhan Jagokan Brasil
Fri Jul 02, 2010 3:17 pm by Admin

» Jepang Lawan Paraguay di 16 Besar
Sat Jun 26, 2010 3:46 pm by Admin

» Sinyal Alquran tentang Bintang Runtuh di Pusat Galaksi
Mon Jun 21, 2010 12:04 pm by Admin

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian

Share | 
 

 Tragedi Situ Gintung

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Tragedi Situ Gintung   Sun Apr 05, 2009 1:45 pm

Tragedi Situ Gintung



Bendungan Kecil Pembawa Maut



Petugas mengevakuasi korban dari daerah genangan banjir di Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (27/3). Karena tanggul Situ Gintung jebol, aliran air menerjang rumah-rumah di kawasan itu.

Situ Gintung, sebelum bencana (atas), dan setelah bencana (bawah).

Suara Pembaruan, Minggu 05 Maret 2009

Muncul pada awal pembentukan dataran rendah Jakarta, sekitar 5.000 tahun silam. Merupakan bagian dari Daerah Aliran Ci Sadane, merupakan salah satu sungai utama Provinsi Banten dan Jawa Barat yang bersumber dari Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Kedua gunung tersebut terletak di Kabupaten Bogor, sebelah selatan Kabupaten Tangerang. Aliran dari mata air menuju Laut Jawa dengan panjang sungai sekitar 80 km termasuk Kali Pesanggrahan.

Sejak dulu di tengah-tengah situ terdapat pulau kecil (Pulau Situ Gintung) yang menyambung sampai ke tepi daratan. Luasnya kurang lebih 1,5 hektare. Kemudian Belanda membendung untuk keperluan irigasi dan pengendalian banjir.

Kemudian pada tahun 1932 dibangun bendungan kecil. Bendungan yang diselesaikan pembangunannya pada 1933 itulah yang sekarang dikenal sebagai Situ Gintung. Fungsinya sebagai penampung dan pengendali air dari drainase seluruh kawasan Ciputat.

Situ Gintung adalah bendungan homogen dengan satu macam jenis tanah atau bendungan urukan homogen di mana ada celah yang disebut pelimpah (spill way) yang lebarnya lima meter. Bendungan ini juga memiliki pintu air kecil untuk irigasi. Bendungan itu juga memiliki pintu air kecil untuk irigasi. Saluran irigasi itu kini sudah berubah menjadi permukiman.

Setelah Indonesia merdeka, Situ Gintung telah beberapa kali dikeruk untuk mengurangi pendangkalan dengan memakai eskavator, namun sejak awal dibangun hingga kini belum pernah dilakukan penurapan, tanggul masih tetap terbuat dari tanah. Pemerintah melakukan perawatan terakhir kali tahun 2008.

Menyusut


Luas situ yang berkapsaitas sekitar 1 juta meter kubik air ini juga sudah jauh menyusut. Menurut catatan BPPT, danau tersebut pernah memiliki luas sampai 70 hektare. Ketika baru dibangun pada tahun 1932, Situ Gintung luasnya mencapai 31 hektare. Namun, akibat pendangkalan, luasnya terus berkurang hingga hanya 21,4 hektare saat ini.

Setelah zaman berganti, sawah berubah menjadi permukiman, fungsi Situ Gintung yang berkedalaman rata-rata sekitar 4 meter ini pun menjadi daerah konservasi serta waduk wisata. Pengalihan fungsi inimembuat pintu pengambilan air tidak difungsikan lagi namun saluran pelimpahan air tetap dibuka.

Sebagai kawasan wisata, Situ Gintung dikelola Dinas Pariwisata Provinsi Banten. Lokasi wisata bernama Pulau Situ Gintung. Lokasi situ di Desa Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan ini menjadi tempat wisata favorit warga Jakarta. Selain pemandangan yang menarik berupa hamparan air layaknya danau dengan pepohonan rimbun, di sana terdapat banyak fasilitas wisata seperti outbound, tempat makan berbentuk saung, wisata air, dan fasilitas pesta luar ruang.

Bendungan kecil zaman Belanda itu telah bobol. Isinya tumpah ruah menyapu wilayah yang lebih rendah. Bendungan kecil itu meluluhlantakkan kamoung Poncol, Curendeu. Sedikitnya 100 orang tewas.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Tragedi Situ Gintung   Sun Apr 05, 2009 1:48 pm

Kesalahan Hitung Situ Gintung


Kawasan Wisata Situ Gintung sebelum tanggul jebol. Foto yang menggambarkan wisata air ini diabadikan pada 2008.


Tanggul Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, jebol sehingga air dari dalam situ melimpas dan menghancurkan permukiman penduduk, Jumat (27/3).

Jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (27/3) dini hari lalu, sungguh sebuah peristiwa kelam. Sedikitnya 100 nyawa melayang dan sampai berita ini dibuat sejumlah orang belum ditemukan.

Warga yang selamat dari musibah, kini masih berada di pengungsian. Sebagian masih trauma karena air bah yang begitu tiba-tiba ataupun karena kehilangan orang-orang tercinta. Harta dan tempat tinggal mereka hancur, bahkan ada yang hilang tak berbekas.

Kerugian materi mencapai ratusan miliar rupiah.

Ketika rasa duka masih menyelimuti kawasan sekitar Situ Gintung, wajar kalau muncul pertanyaan, ada apa sebenarnya dengan bendungan irigasi peninggalan Belanda tersebut.

Dari faktor internal, Situ Gintung yang dibangun Pemerintah Belanda tahun 1933 telah mengalami sejumlah degradasi. Bendungan seluas 31 hektare dengan kedalaman 10 meter saat dibangun kini hanya 21 hektare dan berkedalaman 3-4 meter. Kondisi ini tentu saja berpengaruh terhadap daya tampungnya yang semakin menurun.
Namun demikian, bendungan itu seharusnya dikelola sedemikian rupa sehingga bahaya dapat diantisipasi sebelumnya.

Sesaat setelah kejadian, seperti biasa, para pemangku kepentingan saling melempar tanggung jawab atas peristiwa tersebut. Pemerintah Kabupaten Tangerang menyatakan, tanggung jawab pengelolaan situ tersebut berada di tangan Pemprov Banten.

Selanjutnya, Pemprov Banten pun "cuci tangan" dan menyatakan, tanggung jawab berada di pemerintah pusat, yakni Departemen Pekerjaan Umum (PU).

Di tengah saling tuding itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) berencana mengajukan gugatan perwakilan kelompok (class action) atas kasus tersebut. Gugatan ditujukan ke tiga instansi, yakni Pemerintah Kabupaten Tangerang, Pemprov Banten, dan Pemerintah Pusat.

Tim penyelamat dari Arus Liar dan Satuan Brimob menyusuri Sungai Pesanggrahan untuk mencari korban jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, akhir pekan lalu. Sungai Pesanggrahan di kawasan itu dipenuhi bangunan warga tanpa menyediakan sempadan atau area bantaran sungai.

Kalalaian

Kepala Departemen Penguatan Regional dan Juru Kampanye Air dan Pangan Walhi Eksekutif Nasional Erwin Usman, kepada SP mengatakan, hasil investigasi sementara Walhi menunjukkan bahwa ada dugaan kuat kelalaian pemerintah provinsi dalam melakukan perawatan melekat terhadap Situ Gintung.

Menurutnya, jebolnya tanggul Situ Gintung, murni kealpaan pemerintah dalam menerapkan UU 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU 7/2004 tentang Sumber Daya Air, PP 42/2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, dan UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Menurut Erwin, pada medio November 2008, tanggul Situ Gintung pernah jebol. Namun, saat itu justru warga yang melakukan perbaikan. Padahal, sejak dua tahun lalu sudah ada rapat koordinasi membahas masalah Situ Gintung, antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan departemen teknis terkait. Bahkan, terdapat dana APBN 2008 yang diperuntukkan bagi perawatan situ sebesar Rp 1,8 miliar. "Berdasarkan laporan warga, revitalisasi Situ Gintung tahun lalu oleh pemerintah daerah hanya berupa pengerukan," kata Erwin.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gadis Heryani menduga ada kelalaian dalam perawatan Situ Gintung.

Dikatakan, ada tiga faktor yang bisa diteliti berkait dugaan kelalaian perawatan, yakni tujuan pembuatan situ, kondisi perkembangan secara komprehensif, dan evaluasi.

Situ Gintung dibangun sebagai bendungan irigasi. "Perkembangannya Situ Gintung fungsinya berubah. Yang perlu dipertanyakan adalah setelah berubah fungsi, apakah ada evaluasi rutin mengenai kondisinya," ujar Gadis. Tampaknya, evaluasi terhadap Situ Gintung tidak dilakukan secara komprehensif.

Langkah serius mencari siapa yang bertanggung jawab juga dilakukan oleh aparat kepolisian. Kementerian Lingkungan Hidup (LH) pun turun tangan dengan menyelidiki apa yang terjadi di Situ Gintung.

Deputi bidang Penegakan Hukum Kementerian LH Ilyas Assaad mengatakan, pihaknya telah melakukan penyidikan kasus Situ Gintung dan akan menyusun rekomendasi kepada Departemen Pekerjaan Umum, selaku penanggung jawab Situ.

"Jenis pelanggarannya apa dan siapa yang salah dan apa yang kami rekomendasikan akan diserahkan ke PU," katanya, Jumat (3/4).

Pelanggaran


Sementara itu, Ketua Tim Penyidik KLH yang turun ke lapangan, Sugeng Priyanto mengatakan, kesimpulan sementara adalah terdapat indikasi pelanggaran tata ruang dan kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan situ. Dia mengatakan, telah terjadi kesalahan perhitungan atau perkiraan dampak dari segala aktivitas pembangunan di kawasan situ.

Menurutnya, sebagai kawasan lindung, Situ Gintung memiliki beberapa ketentuan yang harus ditaati oleh semua pihak. Peraturan Daerah Banten, kata Sugeng, menyebutkan, khusus untuk kawasan situ harus steril dari pembangunan radius 50 meter dari tepi situ. "Nah di lapangan kita lihat, permukiman berada pas di samping situ," katanya.

Kementerian LH menemukan terjadinya pelanggaran tata ruang kawasan Situ Gintung. Pemberian izin pembangunan permukiman di sekitar Situ Gintung jelas sebuah kesalahan yang tidak dihitung dampak negatifnya sejak awal.

KLH sedang mempelajari kemungkinan memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk merelokasi warga yang saat ini bermukim di sekitar Situ Gintung. Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan KLH, Masnellyarti Hilman mengatakan, sesuai aturan, tidak boleh ada bangunan permanen di sekitar situ sehingga bangunan yang ada sekarang menyalahi aturan dan harus ditertibkan.

Menurut dia, meskipun bangunan situ dibangun lebih kuat dibanding sekarang, tetapi kemungkinan jebol tetap masih ada, mengingat curah hujan akhir-akhir ini sangat lebat. Karena itu, opsi relokasi menjadi sangat masuk akal dan paling aman.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Tragedi Situ Gintung   Sun Apr 05, 2009 1:51 pm

Tragedi Situ Gintung

Bencana dan Politik


Rumah-rumah roboh di sisi tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan,
karena jebolnya tanggul, Jumat (27/3). Ratusan rumah porak-poranda tersapu air bah karena jebolnya tanggul.


Suatu kebetulan yang menarik, saat terjadi tragedi Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang Selatan, yang telah menelan banyak korban dan harta, bangsa kita sedang sibuk dengan kampanye politik untuk pemilu legislatif dan pemilihan presiden.

Kalau saja negeri kita memiliki Partai Hijau seperti di Jerman, tentu pemimpin partai sudah akan ribut kenapa situ yang dibangun pada zaman Hindia Belanda 76 tahun itu sampai jebol. Orang yang paling bertanggung jawab atas kelalaian tersebut akan diseret ke pengadilan untuk dimintai pertanggungjawabannya.

Tetapi ini Indonesia, Bung! Yang disalah-salahkan justru hujan lebat yang mengucur selama lima jam. Padahal kita tahu, semua bencana, kecuali gempa, selalu memberi tanda-tanda pada awalnya. Sinyal itu sudah ada. Warga sekitar situ pernah menyampaikan permohonan agar situ dibenahi. Tapi, sampai dinding situ jebol, permohonan warga tadi tak pernah digubris.

Ketika situ sudah pecah, partai-partai kita yang akan bertanding pada 9 April 2009 untuk merebut suara rakyat dalam pemilihan calon anggota legislatif (caleg) ramai-ramai buka posko. Karuan saja mereka langsung dituduh mau berkampanye. Namanya orang partai, pandai benar mereka bersilat lidah. Mereka menyangkal tidak mau memanfaatkan bencana tersebut untuk berkampanye.

Tidak salah kalau ada orang yang menilai aksi para caleg berbau kampanye. Terbukti, partai-partai itu datang lengkap dengan atribut partai. Kadernya tampil gagah dengan seragam partai. Di poskonya, bendera partai berkibar gagah perkasa di atas langit duka. Dan, ini bukan hal baru. Ketika Jakarta dihantam banjir awal tahun ini, bendera partai berkibar tinggi. Orang partai membawa bantuan mi instan lengkap dengan seragam dan atribut partai. Orang awam sekalipun tahu, mereka memanfaatkan bencana untuk berkampanye.

Kini, orang sudah tidak peduli nasihat nenek moyang. Kalau engkau mau membantu orang lain, janganlah apa yang diberikan oleh tangan kananmu diketahui oleh tangan kirimu. Kalau benar mau membantu, tentu segala atribut partai ditinggalkan. Biar masyarakat mengetahui partai dan politisi mana yang membawa bantuan. Jangan partainya sendiri yang justru memberi tahu ini bantuan dari partai saya lho! Kalau begitu, jelas ada udang di balik batu, ada pamrih di balik bantuan. Apalagi pada musim kampanye sekarang.

Pesan Ekologis


Persoalan yang lebih dalam dari itu, apakah partai, orang partai, atau politisi kita mampu menangkap pesan ekologis dari tragedi Situ Gintung? Situ Gintung sekali lagi menegaskan bahwa negeri kita sedang menghadapi kerusakan ekologis yang luar biasa seperti kerusakan ekologis di sekitar Situ Gintung. Makin luas hutan yang gundul. Maka, tidak heran bencana banjir dan longsor makin sering terjadi belakangan ini. Dan makin dahsyat.

Belum lagi bencana gempa, karena hampir sebagian besar negeri yang tercinta ini duduk di atas pangkuan pertemuan lempeng bumi (ring of fire). Ancaman tsunami akibat gempa pun sangat besar karena negeri kita negeri kepulauan.

Apakah para politisi kita yang kini mencalonkan diri menjadi anggota DPRD, DPR, dan DPD memiliki kesadaran ekologis? Syukur-syukur kalau mereka memiliki konsep manajemen bencana. Selama masa kampanye yang panjang ini hampir-hampir tidak pernah kita dengar mereka bicara masalah lingkungan hidup, soal bencana yang senantiasa mengintai negeri ini. Mereka baru ramai-ramai ikutan bicara setelah ada tragedi Situ Gintung.

Yang justru kita saksikan adalah bagaimana para caleg menunjukkan budaya narsisme politik. Mereka nampang di baliho yang ukurannya besar-besar. Mereka nampang di spanduk-spanduk. Mereka nampang di stiker-stiker dan brosur. Yang mereka minta dari rakyat adalah "doa restu" untuk dipilih tentu saja. Apa bisa kita harapkan politisi yang narsis itu menaruh perhatian pada masalah ekologi?

Sementara itu, kader politik yang masih menjabat saat ini sibuk mengklaim diri telah berhasil dengan berbuat ini- itu seperti harga bahan bakar yang turun dan memberikan bantuan tunai langsung kepada rakyat miskin. Yang baru muncul di panggung politik sibuk membanjiri rakyat dengan seribu janji.

Adakah politisi yang bicara masalah ekologi negeri ini yang sudah rusak parah?

Capres Prabowo Subianto yang diusung oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tampil dengan delapan program. Pada program kedelapannya Prabowo mengusung pelestarian alam dan lingkungan hidup.

Rencananya, bentuk nyata dari program itu adalah melakukan penghijauan kembali 59 juta hektare hutan yang rusak serta konservasi aneka ragam hayati dan hutan lindung; mengamankan dan merehabilitasi daerah aliran sungai; mencegah dan menindak tegas pelaku pencemaran lingkungan, dan melindungi flora dan fauna sebagai bagian dari aset bangsa.

Kita tidak tahu, apakah program itu mendapatkan prioritas kedelapan setelah program-program lainnya. Akankah capres lain menyusul dengan program ekologinya?

Politik adalah seni memanfaatkan berbagai peluang dalam berdemokrasi untuk menyejahterakan kehidupan rakyat. Jadi, ujung-ujung dari politik adalah kesejahteraan rakyat. Jangan sampai yang terjadi, politik membawa bencana.

Negeri kita membutuhkan pemimpin yang memiliki wawasan ekologis, yakni pemimpin yang mempunyai perhatian pada masalah ekologi. Negeri kita rawan bencana akibat rusaknya lingkungan hidup. Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya keseimbangan ekosistem setelah terjadinya bencana seperti Situ Gintung. Terlalu mahal pembelajaran seperti itu.

Bencana Situ Gintung hendaknya menjadi penasihat kita yang bijaksana agar tidak terjadi lagi bencana serupa. Di sinilah dunia politik bisa memainkan perannya untuk mengambil kebijakan untuk menyelamatkan ekologi kita.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Tragedi Situ Gintung   Sun Apr 05, 2009 3:09 pm

Lydia Kandou




Bukan Salah Masyarakat


Artis Lydia Kandou turut menjadi korban tsunami kecil di Situ Gintung. Rumah yang dihuni sejak awal pernikahannya dengan Jamal Mirdad, 24 tahun lalu, hancur diterjang air. Bagi aktris pemenang dua Piala Citra itu, bencana yang terjadi di Situ Gintung di luar dugaan sama sekali. "Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan ada kejadian seperti ini. Sungguh mengerikan," katanya kepada SP yang menemuinya di lokasi syuting sinetron Nikita, Rabu (1/4) di Studio Persari, Jakarta Selatan.

Bintang film era 1980-an itu sangat menyesalkan sikap pemerintah yang terkesan enggan bertanggung jawab atas peristiwa itu. "Mestinya ada warning dulu terhadap masyarakat. Situ Gintung kan tidak mungkin langsung hancur mendadak. Pasti ada tanda-tandanya. Mengapa hal itu tidak dikontrol dan diwaspadai hingga harus banyak korban nyawa," katanya dengan nada geram.

Sebagai warga masyarakat Lydia merasa sangat dirugikan. "Ini bukan salah masyarakat. Kami selama ini membayar kewajiban kepada pemerintah. Tapi, setelah peristiwa ini terjadi, kenapa harus dipertanyakan mengapa membangun rumah di sana? Jika tidak ada izin, tentu tidak ada pembangunan. Nyatanya, banyak perumahan di sana," kata Aktris Terpuji versi Forum Film Bandung lewat sinetron Rahasia Perkawinan itu.

Di tengah bencana, aktris yang telah membintangi lebih dari 40 judul film dan sinetron itu masih bersyukur tak ada satu pun dari anggota keluarganya yang menjadi korban. Pasalnya, rumah di Bukit Cirendeu Permai itu sedang tidak ditempati karena sedang direnovasi.

Saat ini, keluarga Lydia dan Jamal tinggal di kawasan Kebayoran Baru. Tetapi, rumah di Cirendeu tidak ditinggalkan. Banyak kenangan bagi Lydia dan Jamal di rumah yang dihuni sejak tahun 1985 itu. Di sana, pasangan yang bertemu dalam film Ramadhan dan Ramona itu membangun rumah tangga mereka. Di rumah itu juga, keempat anak-anaknya, yaitu Hanna Natasya Maria (Nana), Kenang Kana, Nasyilla, dan Nathana Ghaza lahir dan dibesarkan. "Mas Jamal yang membeli rumah itu. Kami suka tempat itu karena suasananya yang tenang. Masih banyak pohon karet dan sejuk. Pokoknya tidak ada masalah dengan sungai," katanya.

Ketika banjir mulai melanda Jakarta pada tahun 1997, Lydia tetap merasa aman. "Saat itu memang di dekat rumah ada genangan air, tapi tidak pernah sampai ke dalam rumah. Demikian ketika banjir besar pada tahun 2002. Tidak terbersit dirinya untuk pindah dari rumah itu Meski waktu itu jalanan di depan rumahnya ketinggian air mencapai dada orang dewasa. "Waktu itu anak-anak saya malah senang karena bisa ikut tim SAR naik perahu karet dan turut membagi-bagikan makanan kepada warga sekitar. Jadi tidak terpikir pindah," katanya.


Baru pada tahun 2007, dia memikirkan untuk membeli rumah lain di kawasan Kebayoran Lama. Alasannya, terkait dengan kesibukan dari anak-anaknya. Saat itu Naysilla dan Nana sedang merintis karier sebagai bintang sinetron yang harus syuting setiap hari. Saat itu, rumah di Cirendeu tidak ditinggalkan, tetapi direnovasi. Bahkan sebelum bencana ini terjadi, kata Lydia, mereka berencana untuk kembali menempati rumah itu lagi.

"Kami berencana tinggal lagi di sana setelah renovasi sudah selesai. Tapi karena saya dapat tawaran syuting, rencana itu tertunda. Sampai ada peristiwa ini," tuturnya.

Menurut Lydia, kedua anak perempuannya, Nana dan Naysila, mengaku khawatir jika orangtuanya kembali menempati rumah itu.Sedangkan, suami dan kedua anaknya yang lain sebaliknya.

"Saya sih nanti ikut suara terbanyak saja. Karena biar bagaimanapun, rumah itu adalah bagian dari keluarga kami," ucapnya lagi.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Tragedi Situ Gintung   Sun Apr 05, 2009 3:13 pm

Seto Mulyadi


Kak Seto bersama istri dan kedu anaknya.


Melukai Hati

Bencana demi bencana kembali menerpa bumi tercinta, Indonesia. Terakhir, bencana yang bisa dikatakan dahsyat terjadi karena jebolnya Tanggul Situ Gintung, Ciputat, Tangerang.

Dalam keheningan dan dinginnya malam (dini hari, Red), ketenangan dan kedamaian berubah menjadi penderitaan panjang hanya dalam waktu beberapa menit saja. Bak jutaan pasukan berwajah garang yang maju ke medan perang sambil mengacungkan pedang, air itu tiba-tiba datang. Seperti ditumpahkan dari langit, air itu menghantam dengan deras dan keras, hingga menghancurkan harta benda orang-orang yang bermukim di sekitar Situ Gitung.

Bukan hanya harta benda, bencana yang terjadi karena keteledoran manusia itu juga memisahkan orang-orang yang dikasihi. Seorang ayah kehilangan istri dan empat anak tercintanya yang tewas diterjang air, merupakan satu dari ratusan cerita memilukan tentang bencana Situ Gintung.

Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto, merupakan satu dari ribuan orang yang masuk dalam cerita memilukan itu. Rumah psikolog sekaligus Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) di Kompleks Perumahan Cirendeu Permai Blok A 4 No 13 ini, mengalami kerusakan cukup parah oleh ganasnya air.

"Saat kejadian, saya memang tidak ada di lokasi, karena sedang di Padang menghadiri seminar. Saat kejadian pagi-pagi sekali, saya ditelepon anak dengan histeris, datang banjir bandang yang cukup dahsyat hingga rumah menjadi berantakan. Semua panik dengan musibah yang terjadi secara tiba-tiba dan tanpa diduga. Syukur semua anggota keluarga selamat, istri dan anak-anak karena tidur di lantai atas, hanya rumah yang rusak," ungkap Kak Seto ketika dihubungi SP, baru-baru ini.

Ia pun langsung terbang ke Jakarta dengan penerbangan pagi. Seluruh perabotan rumahnya hanyut ditelan air yang sempat mencapai ketinggian tiga meter. Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951 itu, tidak mempermasalahkan keadaan rumahnya. Yang dikhawatirkannya adalah kondisi anak-anak yang mengalami kejadian itu. Jiwa mereka terganggu, dalam arti ada beban psikologis yang dipikulnya.

"Yang paling penting adalah janji Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika di Bantul, Yogyakarta. Ia pernah menjanjikan, apabila terjadi bencana akan mengganti kerugian. Namun, kenyataan hal itu belum terwujud dan hal ini jelas melukai hati masyarakat. Mereka itu mengalami depresi dan trauma yang berat. Lalu, bagaimana dengan masa depan mereka," ujar Kak Seto.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Tragedi Situ Gintung   Sun Apr 05, 2009 3:16 pm

Kata Kuncinya Adalah Relokasi




Pekerja membersihkan rumah Ketua Komisi Perlindungan Anak Seto Mulyadi, yang terkena dampak jebolnya tanggul Situ Gintung beberapa waktu lalu di perumahan Taman Cirendeu Permai, Ciputat, Jakarta Selatan, Kamis (2/4).

Penelurusan tim khusus yang dibentuk Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendapati sebagian besar korban dalam bencana Situ Gintung bermukim di lahan yang memiliki kemiringan lereng lebih dari 40 persen. Lahan tersebut masuk ke dalam kawasan konservasi atau kawasan lindung yang tidak boleh ditempati.

Nasi sudah menjadi bubur. Kini, saatnya membangun kembali. Rapat Pemerintah Pusat dengan Pemprov Banten dan Kota Tangerang Selatan, Selasa (31/3), memutuskan, Situ Gintung akan dibangun kembali, mulai Mei 2009. Pembangunan harus selesai Oktober 2009. Seluruh permukiman warga akan ditata ulang berdasarkan rencana tata ruang. Menurut Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Pemukiman Provinsi Banten Winarjono, besar dana untuk merelokasi warga dan membangun kembali situ masih dalam penghitungan estimasi anggaran.

Departemen Pekerjaan Umum (PU) memberikan tiga opsi penanganan pascabencana. Pertama, pembangunan kembali dengan mempertahankan situ konservasi. Posisi situ tetap di lokasi semula atau membangun situ baru di lokasi yang lebih tinggi. Kedua mengembalikan fungsinya ke alam. Situ dihilangkan dan dikembalikan ke sistem sungai. Jadi, tak ada bendungan. Ketiga, kombinasi antara opsi satu dan dua. "Wapres lebih setuju pada opsi ketiga," kata Direktur Sungai, Danau, dan Waduk, Ditjen Sumber Daya Air, Departemen PU Widagdo.

Menurut Widagdo, saat ini belum tersedia dana untuk penanganan pascabencana. Namun, ada alternatif tercepat yakni merevisi dan relokasi program. Program lain ditunda dan anggaran program tersebut untuk Situ Gintung. Pekan depan tampaknya akan semakin jelas berapa dana dan gambaran detail dari pembangunan kembali kawasan Situ Gintung.

Menurut Deputi Pengembangan dan Otonomi Daerah Bappenas Max Pohan, pemerintah telah menyiapkan dana dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana Rp 500 juta-1 miliar untuk penanganan pascabencana Situ Gintung.

Pengembalian ke fungsi tata guna lahan mula-mula tampaknya menjadi acuan pemerintah. Karena itu relokasi adalah kata kunci. Sebanyak 400 keluarga kemungkinan besar akan direlokasi.

Pada kasus Situ Gintung, pemerintah sebenarnya punya pijakan jelas. Pasal 37 Undang-Undang No 26/ 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan, bila izin pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, maka izin dapat dibatalkan oleh pemerintah. Tampaknya sebagian besar korban di Situ Gintung bertempat tinggal di lokasi yang tidak sesuai dengan tata ruang. Seperti hasil penelusuran phak KLH, kebanyakan korban bermukim di lahan yang memiliki kemiringan lereng lebih dari 40 persen atau yang seharusnya untuk hutan lindung.

Pada UU No 26/2007 itu juga disebutkan izin pemanfaatan ruang yang diperoleh dengan tidak melalui prosedur yang benar, akan dengan sendirinya batal demi hukum.

Sedangkan izin pemanfaatan ruang yang diperoleh sesuai prosedur, tetapi kemudian terbukti tidak sesuai dengan rencana tata ruang dapat dibatalkan pemerintah. Terhadap kerugian yang ditimbulkan karena pembatalan itu yang bersangkutan dapat meminta penggantian yang layak kepada instansi pemberi izin.

Berbekal UU, seharusnya pemerintah daerah dan pusat tidak akan kesulitan secara hukum. Apalagi bila melihat kondisi ratusan korban di pengungsian. Sebagian dari mereka mengalami gangguan jiwa sedang meskipun secara fisik kondisinya baik.

Menurut Tim Kesehatan Jiwa, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, para korban umumnya takut menyentuh air, masuk ke dalam kamar mandi sendirian, cemas, sulit diajak bicara. "Mereka terlihat depresi karena itu pengungsi harus diberikan tempat dan istirahat yang cukup agar pikiran mereka tenang. Yang kita waspadai adalah tekanan kejiwaan setelah 10 hari ke depan, di mana perhatian dari masyarakat luas makin berkurang, sementara beban hidup pengungsi makin berat," kata Heni Dwi Windarwati, salah satu anggota tim. Menurut Heni, para pengungsi ini membutuhkan tempat nyaman. Apakah itu berarti relokasi?
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Sponsored content




PostSubyek: Re: Tragedi Situ Gintung   Today at 7:44 pm

Kembali Ke Atas Go down
 
Tragedi Situ Gintung
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.paguyubanpulukadang.forumotion.net :: Berita :: Jabodetabek-
Navigasi: