www.paguyubanpulukadang.forumotion.net


 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Latest topics
» Kudeta Hancurkan Bangsa
Tue Oct 19, 2010 3:27 pm by Admin

» SBY Bertemu 7 Pimpinan Lembaga Negara di MPR
Mon Oct 18, 2010 3:18 pm by Admin

» Urbanisasi Tak Terbendung, Jabodetabek Makin Kumuh
Thu Oct 14, 2010 3:26 pm by Admin

» HALAL BIL HALAL 1431H KERUKUNAN KELUARGA BESAR JATON JAKARTA ( KKBJJ )
Mon Oct 11, 2010 9:25 am by Admin

» HALAL BIL HALAL 1431 H PKBP JABODETABEK
Mon Oct 11, 2010 9:23 am by Admin

» Yang Kami Tolak Bukan Kristen, Tapi Kristenisasi
Thu Sep 23, 2010 6:32 pm by Admin

» 5,4 Juta Komuter Serbu DKI Jakarta Setiap Hari
Thu Sep 23, 2010 6:29 pm by Admin

» Gila! Al Quran Jadi Dibakar di Amerika
Sun Sep 19, 2010 3:49 pm by Admin

» PROJECT BLUE BEAM
Mon Sep 13, 2010 5:55 pm by Admin

» Demokrasi Belum Wujudkan Kesejahteraan dan Keadilan
Sun Aug 15, 2010 7:21 pm by Admin

» Potret Kemiskinan Indonesia 69% Pekerja Ada di Sektor Informal
Fri Aug 06, 2010 2:17 pm by Admin

» Mengenal Lebih Dekat Hepatitis
Wed Jul 28, 2010 11:39 pm by Admin

» Alasan Sesungguhnya Mengapa AS Menyerang Iraq
Tue Jul 20, 2010 11:04 am by Admin

» AS Rahasiakan Obat Kanker dari Buah Sirsak
Tue Jul 20, 2010 9:18 am by Admin

» Politik Anggaran, Prorakyat atau Birokrat?
Mon Jul 19, 2010 5:52 pm by Admin

» Bingung Pastikan Arah Kiblat? Klik Qibla Locator
Sun Jul 18, 2010 8:10 am by Admin

» Inilah Kisah Ilyas dalam Injil Barnabas
Fri Jul 02, 2010 10:03 pm by Admin

» Pasar Taruhan Jagokan Brasil
Fri Jul 02, 2010 3:17 pm by Admin

» Jepang Lawan Paraguay di 16 Besar
Sat Jun 26, 2010 3:46 pm by Admin

» Sinyal Alquran tentang Bintang Runtuh di Pusat Galaksi
Mon Jun 21, 2010 12:04 pm by Admin

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian

Share | 
 

 Topan Nabi Nuh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Topan Nabi Nuh   Tue Dec 23, 2008 10:06 pm

Topan Nabi Nuh


Sejarah.
Alkitab.


Catatan sejarah yang menyatakan perkembangan penyebaran manusia dan peradaban melalui anak keturunan nabi Nuh jelas merupakan hal berbau alkitabiah. Alkitab memang menyatakan ‘keberpihakannya’ terhadap banjir besar di jaman nabi Nuh yang menghancurkan seluruh kehidupan di dunia (kecuali orang-orang yang ada diatas kapal) , setelah banjir selesai anak keturunan nabi Nuh menyebar keseluruh penjuru dunia berkembang menjadi manusia dan peradaban yang ada saat ini (Kejadian 10).
Bahkan alkitab juga menyampaikan banjir tersebut bukan hanya melenyapkan seluruh umat manusia namun juga binatang, makanya bahtera nabi Nuh diisi oleh segala macam binatang, mulai dari gajah sampai cacing. Ketika banjir selesai, segala binatang yang ikut jadi penumpang tersebut menyebar ke seluruh dunia dan berkembang biak (Kejadian 8:17).
Sejarah perkembangan manusia dari terciptanya manusia pertama, Adam dan Hawa berkembang secara linier dan tidak menyebar, hanya berkembang kepada kaum nabi Nuh. Ketika alkitab menceritakan Adam dan hawa diusir dari taman Eden yang berlokasi di sekitar Babilonia, Tuhan mengusir mereka kearah timur (Kejadian 3:24) lalu Adam dan Hawa beranak-pinak, disebut juga waktu itu anak-anak mereka sudah punyai profesi; Habel menjadi pengembala dan Kain jadi petani (Kejadian 4:2).
Setelah Kain membunuh Habel (Kejadian 4:8) umat manusia berkembang melalui keturunan Kain (Kejadian 4:17-24) sampai kepada Tubal-kain dan Laama, namun alkitab tidak mencantumkan berapa lama rentang waktu antara Kain kepada Tubal-Kain dan Lamaa. Sampai disini perkembangan manusia lewat jalur Kain tidak diteruskan.
Disisi lain, lewat jalur Adam dan Hawa manusia berkembang secara linier sampai kepada nabi Nuh dalam rentang waktu 1271 tahun (Kejadian 5).
Dari kedua jalur tersebut ada 1 nama yang sama yaitu Enokh, tidak dijelaskan apakah itu merupakan orang yang sama atau tidak, kalaupun orangnya sama, maka jalur keturunan Adam dan Kain ‘bertemu untuk kembali berpisah’ lewat Enokh..

Ketika Tuhan akan menimpakan banjir besar terhadap manusia, alasan yang dikemukakan adalah karena Tuhan menyesal telah menciptakan manusia mengingat kejahatan yang dilakukan manusia ketika itu, dan akan menghapus mereka semua (Kejadian 6:5-7) , kecuali nabi Nuh (Kejadian 6:8).
Setelah semuanya musnah, Tuhan lalu ‘berfirman dalam hati’ untuk tidak lagi mengutuk manusia dan akan menjaga bumi (Kejadian 8:21-22). Alkitab secara jelas menyatakan penyebaran umat manusia dimulai dari anak keturunan nabi Nuh (Kejadian 9:19, 10:32).
Disini muncul pertanyaan : bagaimana nasibnya dengan anak keturunan Kain..?? apakah mereka menyebar juga ke seluruh dunia..?? apakah mereka ikut musnah dalam banjir besar..??. Pernyataan alkitab soal banjir besar yang meluluh-lantakkan semua makhluk di bumi dalam pernyataan yang jelas tentang manusia yang berkembang melalui anak-anak nabi Nuh memberikan kesan bahwa semua anak keturunan dari Kain ikut musnah dalam banjir besar.

Temuan Arkeologis.
Namun kita tidak bisa mengabaikan fakta tentang adanya temuan arkeologis, bahwa ternyata diluar kisah banjir nabi Nuh tersebut pada kurun waktu yang sama, ditemukan adanya peradaban lain yang masih berjalan.
Peradaban Mesir dan Mesopotamia sudah dimulai sejak jaman Neolotikum (8000 – 7000 SM) dan masih terus berlanjut sampai pada masa setelah banjir besar (thn 4000 SM).
Orientalis Morris Buckey berdasarkan data dan temuan arkeologis modern juga menyatakan ada peradaban-peradaban di berbagai belahan dunia yang nyatanya tetap eksis hingga generasi-generasi berikutnya.
Sezaman dengan banjir nabi Nuh, sejarah Mesir kuno tengah menapak fase pertengahan pertama sebelum dinasti kesebelas, sementara Babilonia dikuasai oleh dinasti Ur II. Peradaban kuno tetap lestari dan tidak mengalami keterputusan sejarah ataupun binasa total seperti yang dikatakan kitab Kejadian tersebut.


Wiki

http://id.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah_Kuno

Di Indonesia sendiri juga ditemukan artefak peralatan pertanian dan berburu pada jaman yang sama, jauh sebelum anak keturunan nabi Nuh melalui rumpun bangsa Mongol beremigrasi ke wilayah Nusantara. Sekalipun saya tidak setuju dengan perkembangan manusia menurut teori evolusi Darwin, namun fakta-fakta tersebut tidak bisa kita abaikan hanya karena ingin menegakkan teori yang sangat dipengaruhi alkitab tersebut.

Al Qur'an


Sekarang kita bertanya, bagaimana Al-Qur’an memberikan ‘sinyal-sinyal’ berupa informasi tentang perkembangan peradaban umat manusia ini..?? Al-Qur’an juga memuat cerita tentang banjir besar nabi Nuh, namun tidak menyatakan keberpihakannya kepada banjir yang memusnahkan seluruh peradaban, bahkan memusnahkan seluruh binatang-binatang. Kisah nabi Nuh disinggung Al-Qur’an dalam 11 rangkaian ayat, yaitu:

QS - Al A'raaf[7:59-64],

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ


[[7:59 Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

QS [10:71-74],

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللّهِ فَعَلَى اللّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُواْ أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءكُمْ ثُمَّ لاَ يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُواْ إِلَيَّ وَلاَ تُنظِرُونِ

[10:71] Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.

فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِين'


[10:72] Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)".

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلاَئِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنذَرِينَ


[10:73] Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.

ثُمَّ بَعَثْنَا مِن بَعْدِهِ رُسُلاً إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَآؤُوهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُواْ لِيُؤْمِنُواْ بِمَا كَذَّبُواْ بِهِ مِن قَبْلُ كَذَلِكَ نَطْبَعُ عَلَى قُلوبِ الْمُعْتَدِينَ
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Topan Nabi Nuh   Tue Dec 23, 2008 10:16 pm

QS [10:71-74], QS [11:25-48], QS [23:23-30], QS [25:37], QS [26:105-122], QS [29:14-15], QS [37:78-82], QS [54 :11-16], QS [69:11], QS [71 :5-28]. Al-Qur'an juga menggambarkan bahwa banjir yang terjadi berskala besar sehingga dikatakan tingginya sampai ke gunung :
wahiya tajrii bihim fii mawjin kaaljibaali
[11:42] Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.

qaala saaawii ilaa jabalin ya'shimunii mina almaa-i
[11:43] Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!"

walaqad arsalnaa nuuhan ilaa qawmihi falabitsa fiihim alfa sanatin illaa khamsiina 'aaman fa-akhadzahumu alththhuufaanu wahum zhaalimuuna
[29:14] Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.


Sekarang mari kita simak pengertian kata 'jabaal' dalam Al-Qur'an. Kata ’jabaal’ (bentuk tunggal) atau ‘jibaal’ (bentuk jamak), kata ini terulang 41 kali dalam Al-Qur’an, 39 kali berarti gunung dalam bentuk tunggal atau jamak, 2 kali disebut dengan arti ‘sekelompok orang banyak’ karena banyaknya seolah-olah bentuknya ‘menggunung’. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kata ‘jabaal’ tidak memberikan batasan berapa tinggi gunungnya, beda dengan bahasa Indonesia, kita biasanya membedakan antara gunung dengan bukit yang tingginya lebih rendah. Anda bisa menyebut ‘Jabal Everest’ ataupun ‘Jabal Sentul’. Jadi ketika Al-Qur’an mengibaratkan banjir tersebut ‘kaaljibaali’ – laksana gunung, tidak disebutkan berapa tinggi banjirnya, bisa setinggi gunung Everest, bisa juga setinggi bukit Sentul. Demikian pula ketika anak nabi Nuh menyatakan akan menyelamatkan diri ke gunung, tidak dijelaskan juga apakah ke gunung Himalaya atau ke gunung Uhud. Demikian pula QS 29:14 disebut ‘banjir besar’, padahal dalam bahasa aslinya ‘alththhuufaanu’ – angin topan/badai.

Jadi semua penggambaran Al-Qur’an soal banjir besar dijaman Nuh, tidak mengarah kepada banjir yang menenggelamkan seluruh dunia. Al-Qur’an menyerahkan semuanya kepada temuan ilmu pengetahuan dan arkheologi...

Dan soal binatang yang naik ke bahtera, terdapat pada 2 kelompok ayat :
hattaa idzaa jaa-a amrunaa wafaara alttannuuru qulnaa ihmil fiihaa min kullin zawjayni itsnayni wa-ahlaka illaa man sabaqa 'alayhi alqawlu waman aamana wamaa aamana ma'ahu illaa qaliilun
[11:40] Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

fa-awhaynaa ilayhi ani ishna'i alfulka bi-a'yuninaa wawahyinaa fa-idzaa jaa-a amrunaa wafaara alttannuuru fausluk fiihaa min kullin zawjayni itsnayni wa-ahlaka
[23:27] Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu,


‘min kullin zawjayni’ artinya ‘dari masing-masingnya sepasang’, namun terjemahan Al-Qur’an 11:40 kembali melakukan interpolasi ayat menjadi ‘masing-masing binatang sepasang’. Quraish Shihab terlihat membenarkan soal binatang ini, sebaliknya Sayyid Qutb, mengatakan bahwa menafsirkan kata ‘sepasang’ sebagai binatang adalah berbau Israilliyat, namun beliau tidak memberikan alternatifnya dan menganggap sebagai hal yang ghaib (Tafsir Fizhilalil Qur’an jilid 6). Temuan arkeologis menyatakan tidak ada pergerakan penyebaran binatang mulai dari gajah sampai tikus berasal dari satu tempat, maka hal ini juga tidak bisa kita abaikan untuk membenarkan penafsiran yang dipengaruhi alkitab (Kejadian 8:17) tersebut.

Al-Qur’an juga tidak menjelaskan soal adanya penyebaran manusia dan peradaban setelah banjir besar tersebut, ayat yang ‘dekat’ dengan hal tersebut berbunyi :
waja'alnaa dzurriyyatahu humu albaaqiina
[37:77] Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.


Ketika pikiran kita sudah dimasuki cerita alkitab soal nabi Nuh (Kejadian 10), maka ayat tersebut akan mengarahkan pikiran kita bahwa umat manusia memang tersebar bermula dari anak keturunan nabi Nuh, Sebenarnya ayat tersebut adalah ayat yang bersifat netral, karena kalau kita merujuk kepada ayat Al-Qur’an yang lain :
laqad arsalnaa nuuhan ilaa qawmihi
[7:59] Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya..

alam ya/tihim nabau alladziina min qablihim qawmi nuuhin wa'aadin watsamuuda waqawmi ibraahiima wa-ash-haabi madyana waalmu/tafikaati
[9:70] Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?


Ayat ini menjelaskan kesejajaran kaum nabi Nuh dengan kaum lainnya, sehingga QS [37:77] bisa juga diartikan maksud ‘melanjutkan keturunan’ adalah dalam lingkup kaum nabi Nuh sendiri, bukan menyatakan penyebarannya keseluruh penjuru dunia. Namun sekali lagi Al-Qur’an ‘bersikap netral’ dalam hal ini.

Sangat menarik memang, ketika Al-Qur’an menyebut suatu nama bukit tempat kapal nabi Nuh terdampar, ini kemungkinan sebagai 'hint' untuk penelitian yang akan dilakukan manusia setelah itu.
waqiila yaa ardhu ibla'ii maa-aki wayaa samaau aqli'ii waghiidha almaau waqudhiya al-amru waistawat 'alaa aljuudiyyi waqiila bu'dan lilqawmi alzhzhaalimiina
[11:44] Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ."


Dimana lokasi bukit Judi, banyak perbedaan pendapat, baik dari para ulama maupun temuan arkheologi. Ada pendapat yang menunjukkan suatu gunung di wilayah Kurdi, atau tepatnya dibagian selatan Armenia, ada pendapat lain dari Wyatt Archeological Research, bukit tersebut terletak di wilayah Turkistan Iklim Butan, timur laut pulau yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai Jazirah Ibnu Umar (Tafsir al-Mishbah). Sedangkan alkitab menyebutnya terdampar di gunung Ararat, ini diduga berada di Turki. Namun temuan arkeologis tidak mengarah kepada banjir yang menenggelamkan seluruh dunia, apakah puncak Himalaya ikut tenggelam..?? apakah banjirnya sampai ke Jawa ketika itu..?? yang ada justru temuan arkeologi bahwa peradaban di Mesir dan Babilonia pada masa yang sama masih tetap berjalan dan tidak musnah atau terputus.

Kunci untuk mengetahui penyebaran peradaban ini sebenarnya ada pada sumber-sumber yang menjelaskan sejarah pada kurun waktu dari nabi Adam sebagai manusia pertama kepada nabi Nuh. Beberapa pendapat menyatakan bahwa jangka waktu antara nabi Adam dengan nabi Nuh sangatlah panjang melingkupi rentang ratusan ribu bahkan jutaan tahun, sehingga ketika jaman banjir besar nabi Nuh, umat manusia sudah tersebar keseluruh penjuru dunia, menjadi kelompok-kelompok primitif, lalu beradaptasi dengan alam lingkungannya. Ketika banjir besar nabi Nuh selesai dan anak keturunannya menyebar ke seluruh dunia. Namun sekali lagi, ini bukanlah kesimpulan yang diambil dari Al-Qur'an, kebenaran teori ini mungkin akan bisa diungkapkan kemudian setelah makin banyaknya ditemukan artefak dan peninggal kuno yang akan membenarkan, ataupun mementahkannya.

Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskan soal kurun waktu ini. Kisah nabi Nuh dan beberapa ‘sinyal’ sejarahnya merupakan kisah yang pertama dari umat manusia yang diceritakan Al-Qur’an secara lengkap. Memang terdapat 7 kelompok ayat yang menceritakan tentang kisah nabi Adam, QS [2:30-38, QS [7:11-30], QS[15:28-43], QS[17:61- 65], QS [18:50], QS[20:115-123], QS[38:71-85], namun sangat sedikit informasi tentang bagaimana kehidupan nabi Adam setelah diturunkan kedunia. Pengisahan tentang Adam dalam Al-Qur’an terfokus kepada : (1) pembangkangan Iblis dan ikrarnya untuk menjerumuskan manusia serta (2) informasi tentang penciptaan nabi Adam. Terdapat juga ayat lain tentang kehidupan manusia sebelum nabi Nuh, yaitu kisah tentang anak-anak nabi Adam QS[5:27-31] namun itupun tidak menginformasikan tentang lokasi ataupun penggambaran lingkungan, tidak seperti pengisahan nabi Nuh dan nabi-nabi lainnya. Al-Qur’an kelihatannya ‘membuka diri’ agar manusia melakukan penelitian sendiri tentang sejarah peradaban sebelum jaman nabi Nuh.

Terdapat satu ‘sinyal’ lagi yang diberikan Al-Qur’an tentang masa antara nabi Adam dam nabi Nuh ini, yaitu penyebutan adanya seorang nabi bernama Idris :
waudzkur fii alkitaabi idriisa innahu kaana shiddiiqan nabiyyaan warafa'naahu makaanan 'aliyyaan ulaa-ika alladziina an'ama allaahu 'alayhim mina alnnabiyyiina min dzurriyyati aadama wamimman hamalnaa ma'a nuuhin wamin dzurriyyati ibraahiima wa-israa-iila
[19:56] Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. [19:57] Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. [19:58] Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni'mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil,

wa-ismaa'iila wa-idriisa wadzaa alkifli kullun mina alshshaabiriina wa-adkhalnaahum fii rahmatinaa innahum mina alshshaalihiina
[21:85] Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. [21:86] Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.


Nabi Idris adalah nabi yang hidup sebelum jaman nabi Nuh, cerita alkitab mempengaruhi penafsiran bahwa Idris adalah Enokh (Kejadian 5). Sayyid Qutb menafsirkannya dengan nama salah satu tokoh Mesir kuno, yaitu Uzuris. Satu tokoh yang sama penggambarannya dengan Enokh, yang naik kelangit dan hidup disana, namun Sayyid Qutb tidak memastikan hal ini. Cerita Israilliyat ini kelihatannya mempengaruhi sementara ahli tafsir yang mengatakan bunyi QS 19:57 diartikan secara harfiah. Sumber-sumber Islam sendiri tidak banyak memberikan penjelasan tentang nabi Idris ini, ada satu hadist riwayat ath-Thabarani melalui Ummu Salamah yang menyatakan nabi Idris berteman dengan malaikat maut dan memasuki neraka dan surga ketika masih hidup. Namun perawi hadist ini terdapat nama Ibrahim Ibn Abdullah al-Mashishi, yang dikategorikan oleh para peneliti hadist sebagai pembohong dan pendusta.

Sebenarnya kita bisa bertanya-tanya : Apa maksud Al-Qur’an yang menyatakan bahwa nabi Idris adalah ‘seorang yang sangat membenarkan’..?? Ketika sahabat Rasulullah, Abu Bakar dijuluki 'siddiq' - orang yang membenarkan, objeknya jelas yaitu Rasulullah sendiri, yaitu Abu bakar adalah sahabat yang selalu membenarkan apapun pernyataan yang dikeluarkan Rasulullah, termasuk cerita nabi tentang perjalanan Isra'Mi'raj-nya, ketika banyak orang, bahkan umat Islam lain yang meragukannya, Abu Bakar tanpa 'pikir panjang' membenarkannya. Mengapa Al-Qur’an memberikan penekanan sifat ini kepada nabi Idris..?? apa atau siapa yang telah dibenarkan olehnya..?? Ini mungkin sinyal yang diberikan Al-Qur’an untuk mencari hubungan adanya cerita nabi Nuh dengan fakta arkeologis tentang kelompok manusia yang sudah menyebar ketika itu…wallahualam…


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Tue Dec 23, 2008 10:18 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Topan Nabi Nuh   Tue Dec 23, 2008 10:17 pm

11/40 hingga ketika datang perintah KAMI, dan daerah tatasurya bergemuruh, Kami katakan: .......berpasangan.......

Nabi Nuh adalah seorang yang cerdas dengan ilmu pengetahuan tinggi., terbukti dengan kapalnya yang dibikinnya begitu besar sanggup menampung segala makhluk daratan masing-masing jenis berpasangan. coba anda perkirakan betapa besarnya kapal laut itu ( dengan ilmu matematika ) bisa bisa panjangnya 2 kilometer.( semua jenis x berpasangan x tdk kelaparan dll )

54/13 Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,
berarti saat itu sudah ada besi ( bukan pasak ) jadi sudah ada teknologi pengolah besi.

begitu hebatnya badai tersebut sampai sampai bumi bergeser 68 derajat.
ini terbukti dengan peninggalan-peninggalan 29/15 sebagai pertanda bagi seluruh manusia. dan ternyata planet-planet lain juga bergeser.

jangankan ke tempat lain, ke gunungpun masih diterjang ombak setinggi gunung. komunikasi saat itu juga sudah sangat canggih. lihat ayat ini,.

11/42 Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

11/43 Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

pada saat terseret tsb bumi bergeser 68" sehingga air laut terlempar ke angkasa kemudian menghujani semua yang ada, air darat dan pantai bergerak tak tentu arah menerjang semua yang ada. dari bawah dan dari atas bertemu untuk waktu yang ditentukan, kecuali yg di kapal, binasa semua manusia dan binatang darat.
Peninggalan masa Nuh adalah piramida mesir, peru ( dr batu, keras, tahan air )

Penemuan kapal Nabi Nuh.

Seperti yg dijelaskan dalam Kitab Genesis bahwa Kapal Nabi Nuh mendarat di pegunungan Ararat, Turki, Setelah banjir besar selama 150 hari, 3500 tahun kemudian bangkai kapal ditemukan di pegunungan Ararat, Turki Pada tgl 11 Agustus 1979. Situs peninggalan kapal Nabi Nuh ini sekarang telah dibuka untuk umum oleh pemerintah Turki dan menjadi objek wisata ( visitor center lihat gambar )

And God remembered Noah, and every living thing, and all the cattle that was with him in the ark: and God made a wind to pass over the earth, and the waters asswaged; The fountains also of the deep and the windows of heaven were stopped, and the rain from heaven was restrained; And the waters returned from off the earth continually: and after the end of the hundred and fifty days the waters were abated. And the ark rested in the seventh month, on the seventeenth day of the month, upon the mountains of Ararat."
"While routinely examining aerial photos of his country, a Turkish army captain suddenly gaped at the picture shown above.
There, on a mountain 20 miles south of Mt. Ararat, the biblical landfall of Noah's Ark, was a boat-shaped form about 500 feet long.
The captain passed on the word. Soon an expedition including American scientists set out for the site.
Yet a scientist in the group says nothing in nature

Kalangan akademisi modern telah menemukan dalam perjalanan sejarah geologi pernah terjadi beberapa kali kepunahan, dan nyaris memusnahkan segala makhluk hidup. Banyak sekali pembuktian secara langsung tentang perubahan bencana bumi yang berkala.

Dilihat dari bukti yang telah ditemukan, bahwa peradaban manusia prasejarah pernah mengalami kepunahan karena berbagai macam perubahan alam dan bencana, seperti gempa bumi, banjir, gunung berapi, tabrakan benda angkasa (termasuk meteorit dan komet), pergerakan naik turun lempeng daratan, perubahan cuaca yang tiba-tiba, dsb.

Sebagai contoh kasus, Atlantis pernah menjadi sebuah daratan yang memiliki peradaban tinggi manusia, namun tenggelam ke dasar lautan dalam sebuah bencana gempa bumi yang dahsyat pada 11.600 tahun silam. Hal itu membentuk sebuah zona di laut China selatan sekarang, laut di daerah ini sangat dangkal, kedalamannya rata-rata hanya 60 meter lebih. Hanya puncak gunung tertinggi di daratan waktu itu yang tersisa di atas permukaan laut, yaitu yang sekarang terletak di negeri kita, Indonesia.

Begitu pula di kedalaman 200 meter bawah laut pesisir pantai Peru, ilmuwan menemukan pilar batu yang dipahat dan bangunan yang mahabesar. Di dasar lautan Atlantik yang berada di sisi luar berhasil diambil 8 gambar dasar laut. Melalui gambar-gambar ini secara jelas tampak sebuah tembok benteng zaman purbakala dan undakan batu.

Diperkirakan tenggelam pada 10.000 tahun silam. Di belahan barat perairan segitiga Bermuda juga ditemukan sebuah piramida raksasa yang diperkirakan berumur puluhan ribu tahun. Dengan demikian, zaman Nabi Nuh juga tidaklah seprimitif yang selama ini kita bayangkan. Hakikatnya pada zaman itu semuanya sudah maju. Ilmu pengetahuan mereka sudah maju pada masa itu.

Di kaki gunung Ararat itu saja, para peneliti dan ilmuwan Rusia telah menemukan lebih kurang 500 kesan artefak baterai elektrik purba yang digunakan untuk menyadurkan logam. Jelas sekali, bahwa bekas peninggalan kota-kota yang pernah mewakili peradaban manusia prasejarah dan memiliki kecemerlangan ini tenggelam ke dasar lautan karena tenggelamnya daratan.




Banjir Dahsyat
Kurang lebih 12.000 tahun silam, peradaban manusia sebelum peradaban kita sekarang pernah mengalami suatu serangan banjir yang sangat dahsyat, dan banjir waktu itu juga mengakibatkan tenggelamnya daratan.

Secara berturut-turut arkeolog menemukan sejumlah besar bukti yang secara langsung atau pun tidak mengenai banjir dahsyat yang terjadi waktu itu. Para antropolog juga menemukan bukti melalui penelitian pada suku bangsa yang berbeda di berbagai tempat di dunia tentang legenda asal-usul peradaban bangsa ini.

Legenda kuno dari bangsa yang berbeda di berbagai tempat di dunia secara fundamental melukiskan bahwa manusia pernah berkali-kali mengalami bencana dahsyat yang mematikan.

Bahkan begitu seragamnya menguraikan bahwa pada suatu periode prasejarah sebelum munculnya peradaban manusia sekarang ini, di atas bumi pernah terjadi suatu banjir dahsyat yang mengakibatkan punahnya seluruh peradaban manusia, dan hanya sebagian kecil manusia yang dapat mempertahankan hidupnya.

Legenda mengenai banjir dahsyat yang sudah diketahui di dunia tercatat ada 6.000 lebih. Seperti misalnya, dalam legenda China dan Jepang, Malaysia, Laos, Thailand, India, Australia, Yunani, Mesir dan Afrika Selatan, Afrika Utara, penduduk asli Amerika Utara.

Setiap negara serta rumpun bangsa yang berbeda pasti menyimpan sebuah memori tentang peristiwa banjir dahsyat itu. Meskipun legenda-legenda ini terjadi pada setiap bangsa dan budaya yang berbeda, namun semuanya memiliki alur cerita dan tokoh tipikal yang sangat mirip.

Semua bukti dan gejala ini sama sekali tidak dapat diasumsikan sebagai suatu ketidaksengajaan atau pun suatu kebetulan. Proses yang berhubungan dengan banjir dahsyat ketika itu juga diuraikan dalam kitab suci. Meskipun kitab suci merupakan sebuah kitab agama, namun sejumlah besar ahli berpendapat, bahwa yang dilukiskan dalam kitab suci (Alkitab dan Al-Qur’an) adalah sejarah manusia yang sebenarnya.

Ikhtisar dalam Alkitab yang berhubungan dengan banjir dahsyat yang terjadi waktu itu menyebutkan, “Banjir meluap dan menggenang selama 40 malam, air pasang menuju atas, perahu mengambang dari atas permukaan bumi” : “Arus air meluap dahsyat di atas permukaan bumi, seluruh pegunungan


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Tue Dec 23, 2008 10:19 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Topan Nabi Nuh   Tue Dec 23, 2008 10:18 pm

t
ergenang oleh air pasang”: “5 bulan kemudian, perahu berhenti di atas gunung Ararat; dan setelah 4 bulan berlalu, ketika daratan sudah kering, Nabi Nuh meninggalkan perahunya.”

Waktu itu banjir dahsyat sekaligus disertai dengan perubahan daratan dan secara total menghancurkan seluruh peradaban manusia di bumi, hanya sebagian kecil manusia yang dapat mempertahankan hidupnya.

Sejumlah besar bekas peninggalan prasejarah yang belakangan ini ditemukan arkeolog, seperti misalnya, daratan Atlantis, budaya Yunani, bangunan di dasar laut dan lain sebagainya kemungkinan besar tenggelam karena banjir dahsyat waktu itu.

Ada yang memperkirakan banjir dahsyat itu terjadi 5.000 tahun yang lalu, mengikuti perkiraan ahli anstronomi, perahu Nabi Nuh mulai dibuat pada 2465 SM dan hujan mulai turun pada 2345 SM.

Setelah perahu Nabi Nuh mendarat di gunung Ararat, dimulailah kehidupan baru manusia. Mereka yang selamat mulai menyebar. Begitu pula binatang-binatang. Biji-biji tanaman kembali disemaikan. Karena dianggap melahirkan generasi baru manusia setelah Nabi Adam, Nabi Nuh mendapat gelar The Second Father of Human Being --Bapak Manusia Kedua.

Oleh generasi inilah, kebudayaan dan peradaban manusia dikembangkan. Selain di kawasan Ararat, juga di Mesopotamia yang ribuan tahun kemudian menjadi pusat kejayaan Babilonia.


Akibat Gletser yang Mencair
Sekelompok peneliti underwater surveyors yang diketuai oleh Dr. Robert Ballard, yang juga telah menemukan Titanic, telah menemukan sebuah bangunan lama berusia kira-kira 7.500 tahun di dasar Laut Hitam, dekat pantai Turki.

Mereka telah menemukan struktur bangunan dari batu dan kayu di kedalaman beberapa ratus kaki. Penemuan mereka menjadi bukti dari kejadian banjir besar di zaman Nabi Nuh seperti diceritakan di dalam Alkitab dan Al-Qur"an.

Para ilmuwan mempercayai bahwa penemuan tersebut membuktikan keberadaan sebuah kawasan yang telah tenggelam yang disebabkan oleh banjir besar yang melanda sekitar 5000 SM.

Menurut teori mereka, banjir besar tersebut disebabkan oleh adanya pencairan gletser dari tanah tinggi di Eropa.

“Ini merupakan penemuan yang sangat menakjubkan,” kata Dr. Ballard di dalam rancangan National Geographic Society bertajuk “Research Ship Northern Horizon”.

Ballard menerangkan bagaimana sebuah robot bawah air meninjau 300 kaki di bawah permukaan air, telah menemukan kawasan segi-empat berukuran 12 x 45 kaki persegi, di mana terdapat sebuah struktur dari kayu dan tanah liat yang telah runtuh.

“Beberapa artefak yang ditemukan di sana tersimpan rapi yang terdiri dari kayu berukir, beberapa cabang kayu dan peralatan dari batu yang telah runtuh dan diselimuti lumpur,” imbuh Ballard.

Dr. Ballard dan timnya mengawali penelitian di kawasan tersebut setelah dua kapal selam pakar geologi dari Universitas Colombia di New York menyatakan bahwa keadaan tersebut disebabkan oleh banjir besar ribuan tahun sebelumnya.

Mereka meramalkan apabila zaman es berakhir 12.000 tahun yang lalu, maka gletser mulai mencair. Kawasan timur Mediterania yang terputus dari Laut Hitam telah menyebabkan Laut Hitam tidak tenggelam oleh air walaupun permukaan air laut yang lain telah naik.

Hal ini menyebabkan pada sekitar 7.000 tahun yang lalu, genangan awal di Bosphorus telah pecah menyebabkan air di Laut Mediterania melimpah ke timur menjadi Laut Hitam yang memang terputus dari laut-laut yang lain. Kekuatan limpahan air tersebut diperkirakan 10.000 kali daripada air terjun Niagara.

Mereka menyatakan bukti ilmu pengetahuan, menunjukkan bahwa kulit kerang dari kawasan tersebut berusia lebih 7.000 tahun, manakala kulit kerang dari laut lain berusia sekitar 6.500 tahun.

Ballard menerangkan, “Banyak kasus yang terjadi apabila air tawar dari sebuah telaga berubah menjadi air asin dan dampak banjir besar tersebut menyebabkan kawasan daratan yang sangat luas berubah menjadi dasar laut".


Misteri Perahu Nabi Nuh
Sebuah tim yang melibatkan ilmuwan dari Amerika dan Turki akan mengadakan penyelidikan terhadap misteri gunung Ararat pada Juli mendatang. Mereka akan mencari perahu Nabi Nuh.

Apakah kisah perahu besar Nabi Nuh yang tercatat dalam kitab suci merupakan peristiwa nyata atau mitos? Selama ini para ahli dan sarjana selalu berdebat, tidak sedikit yang beranggapan, bahwa hingga saat ini sisa-sisa peninggalan perahu Nabi Nuh masih tersimpan di puncak gunung Ararat Turki. Menurut laporan media cetak Amerika pada 26 April 2004, sebuah tim peneliti beranggotakan 10 orang yang dibentuk oleh petualang Amerika dan Turki akan mendekati puncak gunung yang misterius itu pada Juli tahun ini, untuk mencari jejak “perahu besar Nabi Nuh” (The Great Noah Ark).

[Maaf, Url atau Link hanya dpt dilihat oleh Member yang login.]
(Ark remains)

Untuk menyingkap misteri perahu Nabi Nuh di pegunungan Ararat tersebut, tim gabungan ini akan mengirimkan penyelidik yang terampil. Diperkirakan mereka akan memasuki gunung Ararat pada 15 Juli 2004, dan akan menjalankan operasi penyelidikan yang berlangsung selama sebulan. Penanggung jawab tim tersebut yakni Daniel P. McGivern mengatakan, “Kami tidak akan menggali benda misterius itu, lebih-lebih tidak akan mengambil artefak apa pun, atau membuat sebuah perahu palsu di sana. Kami hanya akan mengambil gambar di sana, untuk diperlihatkan kepada kalian akan keadaan dan kondisi yang sebenarnya di sana.”

McGivern, pimpinan The Trinity Corporation of Honolulu, Hawaii mengatakan, bahwa sebelum mereka memasuki pegunungan Ararat, para anggota tim masih harus melakukan sejumlah besar persiapan kerja, seperti misalnya, mempelajari data-data yang berhubungan dengan ciri geografis dan bentuk permukaan bumi serta adat istiadat humanisme di daerah sekitar gunung Ararat. Menurutnya, problem terbesar yang dihadapi mereka saat ini adalah bagaimana mengadakan komunikasi dengan penduduk asli setempat. Karena gunung-gunung yang tinggi itu dianggap keramat oleh para penduduk asli setempat, dan mereka yakin akan eksistensi “Perahu Nabi Nuh”, oleh karena itu selama berabad-abad, mereka tidak pernah bersedia menceritakan tentang misteri yang berhubungan dengan gunung-gunung itu kepada orang luar.

Kalau mereka berhasil mendekati apa yang diduga sebagai struktur raksasa setinggi 45 kaki, lebar 75 kaki dan panjangnya sampai 450 kaki yang sempat tersingkap akibat gelombang panas dahsyat yang melanda Eropa pada musim panas yang baru lalu, itu berarti akan memperkuat dugaan sebelumnya. Sebagian besar anggota tim penyelidik mengatakan, bahwa bagi mereka yang memahami kitab Injil, jika keberadaan “Perahu Nabi Nuh” benar-benar terbukti, maka itu akan menjadi simbol legendaris sepanjang sejarah manusia, dan menjadi sebuah rekor perkembangan evolusi manusia. Seperti diketahui kisah Nabi Nuh dan perahunya yang selamat dalam banjir besar tercantum dalam Alkitab dan Al-Qur’an.


Penemuan Awal
Sebenarnya, pencarian terhadap perahu Nabi Nuh sudah cukup lama dilakukan. Setahun setelah terjadi gempa bumi dan letusan gunung berapi dahsyat pada 2 Mei 1883 yang telah memorak-porandakan kampung di kaki gunung Ararat, kerajaan Turki mengirim tim ekspedisi untuk melihat akibat yang ditimbulkannya. Kapten Gayscoyne, duta Inggris di Istambul, turut dalam ekspedisi itu. Saat itu mereka melihat “Perahu Nabi Nuh”.

Bukan itu saja, mereka juga dapat masuk dan mengukur perahu purba itu. Namun mereka tidak dapat mengukur dengan tepat dan lengkap karena sebagian darinya diselimuti es dan hanya 20 hingga 30 kaki saja yang menjulur keluar. Diketahui perahu itu dibuat dari balok kayu yang sudah tidak tumbuh lagi di bumi.

Menindaklanjuti temuan itu, pada 1917, Kaisar Rusia Tsar Nicholas II telah mengirim 150 orang pakar dari berbagai bidang dan tentara untuk mencari dan menyelidiki perahu Nabi Nuh. Setelah sebulan, tim ekspedisi itu baru sampai ke puncak Ararat. Segala kesukaran telah berhasil mereka lewati, dan akhirnya menemukan perahu Nuh tersebut. Dalam keadaan terkagum, mereka mengambil gambar sebanyak mungkin. Mereka mencoba mengukur panjang perahu Nuh dan didapati berukuran panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki, sebagian lainnya tenggelam di dalam salju.

Hasil dari perjalanan itu dibawa pulang dan mau diserahkan kepada Tsar, malangnya sebelum sempat melaporkan temuan itu ke tangan kaisar, Revolusi Bolshevik Komunis (1917) meletus. Laporan itu akhirnya jatuh ke tangan Jenderal Leon Trotsky. Sehingga sampai sekarang masih belum diketahui, apakah laporan itu masih disimpan atau dimusnahkan.

Pada 1949, pilot Rusia Lotskovitsky juga mengambil foto “Perahu Nabi Nuh”. Foto tersebut menunjukkan sebuah bintik gelap yang samar-samar tampak di bawah lapisan es yang tebal di puncak gunung, karena itu tidak sedikit ahli yang curiga bahwa itulah perahu Nabi Nuh.

Tahun 1957, beberapa pilot Angkatan Udara Turki sempat menyelidiki puncak Ararat, dan mendapati obyek di Provinsi Agri menunjukkan bentuk sebuah perahu. Namun, karena perang dingin Uni Soviet vs. AS, penemuan itu tidak ditindaklanjuti dengan alasan “mencegah mata-mata AS mendekat”, Uni Soviet melarang pesawat setiap negara memasuki di sekitar pegunungan Ararat. Larangan itu baru dicabut pada 1982, dan sejak itu berbagai tim ekspedisi mulai berdatangan lagi, namun tidak ada yang mampu membuktikan.

Ada juga cerita tragis pada 1960-an. Seorang pengusaha minyak menumpang helikopter di bagian utara gunung Ararat untuk urusan bisnis. Tiba-tiba ia terkejut melihat satu kotak besar yang panjang menyerupai perahu. Ia kemudian menyuruh pilotnya mendekati obyek itu untuk mengambil beberapa gambar. Dengan rasa bangga, ia memperlihatkan gambar-gambar yang telah diambilnya itu pada semua rekan-rekannya di Timur Tengah dan Amerika. Pada saat yang sama ia mencoba mencari bantuan dana untuk menjalankan ekspedisi mencari “Perahu Nabi Nuh”. Karena tidak mendapat dana, ia kecewa dan akhirnya pergi ke British Guyana membuka tambang minyak.

Pada 27 Desember 1962, pengusaha itu ditemukan mati dibunuh dengan keadaan tubuh terapung di kolam renang hotel. Dalam laporan pada polisi, seorang kawan baiknya mengatakan bahwa lemari tempat menyimpan semua foto “Perahu Nabi Nuh” telah digeledah orang 10 hari sebelum kejadian. Gambar perahu Nuh telah hilang. Kawan-kawan baik pengusaha itu mengaku bahwa mereka telah melihat foto hitam putih "Perahu Nabi Nuh" yang berukuran 8 x 10 inci. Dan tidak menolak kemungkinan ia dibunuh karena foto tersebut.

Baru kemudian pada 1995, analis gambar satelit Amerika Bolsey Taylor mulai memperhatikan obyek misterius yang disebut “keajaiban gunung Ararat” itu. Ia menghabiskan beberapa tahun lamanya, mengumpulkan sejumlah besar gambar dari satelit, dan mengklasifikasi foto satelit tersebut, akhirnya didapati, bahwa itu adalah sebuah benda raksasa yang panjangnya 180 meter. Namun, mereka juga tidak tahu persis benda apa sebenarnya, menurutnya bisa saja itu merupakan benteng kuno Turki, atau mungkin reruntuhan sebuah pesawat, dan kemungkinan juga itu adalah “Perahu Nabi Nuh”.

Hingga akhirnya Porcher Taylor, ahli satelit mata-mata, merasa terpanggil untuk ikut mencari kapal Nuh tersebut. Taylor adalah lulusan Akademi Militer West Point AS yang khusus sejak lama mendalami bidang satelit mata-mata. Sejak sembilan tahun lalu rupanya sudah mulai meneliti keanehan yang terjadi di sekitar gunung Ararat Turki ketika ia bertugas memata-matai negara-negara yang berbatasan dengan Uni Soviet .

Taylor sekarang bekerja sama dengan perusahaan satelit pengintai komersial Quick Bird, dan mulai lagi melakukan pemotretan di sekitar gunung Ararat. Sayangnya, foto yang diambil sekarang masih kurang detail karena dari beberapa pengambilan gambar di sekitar gunung tersebut terlalu mendung. Setidaknya usaha Taylor menjadi sebuah harapan besar umat manusia menemukan salah satu kebesaran Tuhan yang hilang.

Sekitar tiga tahun lalu, seperti ditulis G. Joseph, arkeolog Ron Wyatt dan David Fasold menyatakan telah menemukan pendaratan “Perahu Nabi Nuh”. Penemuan ini menyatakan juga bahwa jejak itu tidak berada di puncak Ararat tetapi sekitar 20 mil dari puncak Ararat, dekat sisi dari Turki dan Iran. Tetapi mereka percaya bahwa pasti benar apa yang dikatakan Alkitab bahwa bahtera Nuh mendarat di puncak Ararat. Pergeseran tanah selama ribuan tahun, gempa bumi, adanya gunung baru, dapat mengakibatkan bergesernya lokasi pendaratan tersebut dari puncak gunung Ararat ke posisi sekarang.

Lihat gambar berikut, adalah penandaan yang dilakukan oleh para arkelog. Karena dengan mata telanjang, tanda tersebut sama sekali tidak akan tampak. Penandaan tersebut diambil dari sebuah radar khusus untuk mengidentifikasikan struktur tanah yang membentuk suatu obyek. Pengukuran obyek yang ditandai mempunyai altitude 7.546 kaki. Panjangnya, 558 kaki, dan lebarnya 148 kaki. Ukuran tersebut hampir tepat seperti dalam Alkitab di mana Allah memerintahkan Nuh untuk membuat suatu perahu yang besar. Di sekitar obyek tersebut, juga ditemukan oleh Ron Wyatt sebuah batu besar dengan lubang pahatan.

[Maaf, Url atau Link hanya dpt dilihat oleh Member yang login.]
(Noah Ark)

Mereka percaya bahwa batu tersebut adalah “drogue-stones”, di mana pada zaman dahulu biasanya dipakai pada bagian belakang perahu besar untuk menstabilkan perahu. Radar dan peralatan mereka menemukan sesuatu yang tidak lazim pada level “iron oxide” atau seperti molekul baja. Struktur baja tersebut setelah dilakukan penelitian bahwa jenis “vessel” ini telah berumur lebih dari 100.000 tahun, dan terbukti bahwa struktur dibuat oleh tangan manusia. Mereka percaya bahwa itu adalah jejak pendaratan perahu Nuh.

[Maaf, Url atau Link hanya dpt dilihat oleh Member yang login.]
(Drogue Stone Fasold)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Topan Nabi Nuh   Tue Dec 23, 2008 10:46 pm

[url=http://www.infogue.com/viewstory/2008/12/17/bahtera_kapal_nabi_nuh_ditemukan_di_turki/?url=
http://dedewijaya.wordpress.com/2008/11/29/bahtera-kapal-nabi-nuh-ditemukan-di-turki/]
http://www.infogue.com/viewstory/2008/12/17/bahtera_kapal_nabi_nuh_ditemukan_di_turki/?url=
http://dedewijaya.wordpress.com/2008/11/29/bahtera-kapal-nabi-nuh-ditemukan-di-turki/[/url]

Bahtera (kapal) Nuh telah lama menjadi kontroversi di dunia arkeologi. Sejarah mencatat bahwa Nuh diperintahkan Tuhan untuk membuat sebuah bahtera karena Tuhan berniat menurunkan hujan maha lebat ke bumi. Alkitab mengisahkan bahwa Nuh mentaati perintah tersebut dan tepat pada waktu yang telah ditentukan Tuhan, maka turunlah hujan yang sangat lebat ke muka bumi dan menenggelamkan semua makhluk hidup yang ada. Nuh beserta keluarganya dan binatang-binatang yang diselamatkannya kemudian mengapung bersama bahtera tersebut. Alkitab kemudian menceritakan bahwa bahtera tersebut kandas di puncak gunung Ararat.

Kisah yang bersumber dari Alkitab ini kemudian menjadi bahan perbincangan yang hangat di kalangan sejarawan dan arkeolog. Ada pihak yang mendukung bahwa kisah tersebut adalah nyata, namunada juga yang menganggapnya hanya sekedar dongeng dari Alkitab. Namun, perdebatan tersebut kini berakhir dengan telah ditemukannya bukti-bukti ilmiah berkaitan dengan kisah tersebut. Sisa-sisa bahtera tersebut ditemukan pertama kali oleh seorang Kapten angkatan darat dari militer Turki. Ia menemukannya secara tidak sengaja pada waktu meneliti foto-foto wilayah pegunungan Ararat. Kemudian untuk mengkonfirmasi temuan tersebut, diundanglah ahli-ahli arkeologi dari Amerika Serikat untuk meneliti keabsahannya.








ALKITAB SUNGGUH DAPAT DIPERCAYA!! (...Awas...!!! Propaganda!!! )

Pada ekspedisi ilmiah yang kemudian dilakukan pada ketinggian 7000 kaki, sekitar 20 mil sebelah selatan puncak gunung Ararat, mereka menemukan sebuah kapal sepanjang kira-kira 500 kaki yang telah membatu. Pengukuran yang kemudian dilakukan pada obyek tersebut menghasilkan suatu kesimpulan yang mencengangkan, karena ukuran panjang, lebar dan tinggi penemuan arkelogi tersebut sama persis dengan ukuran bahtera Nuh seperti yang tercantum di Alkitab. Saat ini, lokasi penemuan bahtera tersebut telah menjadi obyek wisata yang dapat dikunjungi semua orang.

More info, visit: http://www.arkdiscovery.com

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Topan Nabi Nuh   Tue Dec 23, 2008 11:39 pm

Adakah Orang yang Pernah Melihat Kapal Nabi Nuh?



Oleh Elton, tanggal 12-12-2008 11:22

Published in : Artikel & Berita, Pendidikan

Selama lebih dari dua dekade terakhir pencarian kapal Nabi Nuh telah memperoleh perhatian internasional. Lusinan ekspedisi ke daerah Ararat di sebelah timur Turki, kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kristen Amerika, telah menuntun kepada banyak klaim - tetapi tidak ada bukti.

Kapal Nabi Nuh Menurut Kitab Suci, kapal Nabi Nuh merupakan suatu perahu besar yang dibuat dari kayu gofir dan ditutup dengan pakal. Ukuran keseluruhannya adalah panjang 450 kaki, lebar 75 kaki dan tinggi 45 kaki dengan tiga geladak di dalam. Sebuah "jendela" dibuat di bagian atas (Kejadian 6:14-16). Sepintas, ukuran keseluruhan kapal ini menjadikannya kendaraan laut terbesar yang ada sebelum abad ke-20, dan proporsinya secara menakjubkan mirip dengan kapal laut besar yang ada sekarang.

Kitab Suci mengatakan bahwa kapal Nabi Nuh kandas di "pegunungan Ararat" (Kejadian 8:4). "Ararat" mungkin menerangkan suatu daerah (kerajaan kuno Urartu) dan bukan puncak gunung secara khusus. Setelah Nabi Nuh dan keluarganya meninggalkan kapal di atas gunung, kapal tersebut tidak pernah disebut-sebut lagi dalam Kitab Suci. Kemudian penulis-penulis Kitab Suci tidak pernah menyatakan bahwa mereka tahu bahwa kapal tersebut masih dapat dilihat.
Pegunungan Ararat
Pegunungan Ararat di Turki tempat kapal Nabi Nuh dilaporkan terlihat.

Pegunungan yang disebut Ararat sekarang lebih nampak seperti daerah pegunungan dengan dua puncak. Yang menarik, ada banyak laporan sepanjang sejarah mengenai perahu besar di pegunungan di daerah ini. Keterangan yang paling awal (bermula pada abad ke-3 S.M.) menyatakan bahwa sudah diketahui secara umum bahwa kapal Nabi Nuh itu masih dapat dilihat di pegunungan Ararat.

Laporan-laporan selama lebih dari seabad terakhir ini berkisar dari kunjungan ke kapal tersebut, sampai penemuan kayu, sampai foto pemandangannya. Secara umum dipercaya bahwa sekurang-kurangnya sebagian besar dari kapal itu masih utuh, tidak di atas puncak yang tertinggi, tetapi di suatu tempat di atas 10.000 kaki. Terperangkap dalam salju dan es hampir sepanjang satu tahun, hanya pada musim panas yang hangat saja struktur kapal tersebut dapat dilihat atau didekati. Beberapa orang mengatakan telah memanjat atapnya, yang lainnya mengatakan mereka telah berjalan-jalan di dalamnya.

Pada tahun 1980-an, "ark-eology" mendapat kehormatan dengan berpartisipasinya mantan astronot NASA James Irwin dalam ekspedisi ke pegunungan. Sebagai tambahan, investigasi kapal Nabi Nuh diuntungkan dengan pecahnya Uni Soviet, karena pegunungan tersebut tepat berada di perbatasan Turki-Soviet. Ekspedisi ke atas pegunungan selalu dianggap sebagai ancaman keamanan oleh pemerintah Soviet.

Sayangnya, kunjungan-kunjungan ke situs yang diusulkan tidak menghasilkan bukti lebih lanjut, tempat beradanya foto-foto tidak diketahui lagi, dan peninjauan yang berbeda tidak menuju ke lokasi yang sama di pegunungan. Lebih dari itu, astronot James Irwin telah meninggal, seorang saksi mata inti telah menarik diri dari hadapan publik, dan sudah ada beberapa ekspedisi baru ke pegunungan di tahun 1990-an.

Tetapi usaha-usaha masih tetap berjalan. Sementara Asosiasi untuk Penelitian Kitab Suci (Associates for Biblical Research) tidak terlibat dalam usaha-usaha ini, kami melanjutkan penelitian tentang laporan-laporan kuno, pengakuan lebih lanjut dari saksi mata dan memperbaharui usaha untuk menentukan tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh. Masih banyak ekspedisi yang menunggu. Jika kapal tersebut memang ada di atas sana, kita akan mendengar beritanya.

Ada beberapa komentar menurut Paul S. Taylor and Mark Van Bebber of Eden Communications bahwa Akibat film Hollywood yang diputar di bioskop pada tahun 1976 ("In Search of Noah's Ark"), banyak orang berpikir bahwa kapal Nabi Nuh benar-benar telah ditemukan. Hal khusus yang diingat oleh banyak orang adalah foto sesuatu yang diduga merupakan kapal Nabi Nuh. Ekspedisi lebih lanjut membuktikan bahwa benda tersebut adalah suatu bentuk batu yang besar.

Pada tahun 1980-an dan 90-an, orang-orang dikacaukan oleh cerita-cerita berita surat kabar yang mengklaim bahwa kapal Nabi Nuh telah ditemukan pada lokasi yang benar-benar berbeda. Laporan itu berisi struktruk berbentuk-kapal yang terletak 15 mil dari pegunungan Ararat. Sayangnya, klaim yang dibesar-besarkan ini tersebar luas. Lokasi ini sering disebut Situs Durupinar. Promosi secara internasional telah dilakukan oleh seorang perawat anestesi Amerika yang bernama Ron Wyatt. Tetapi, survei geologi yang dilakukan secara ekstensif, radar bawah-permukaan dan data pengeboran mengkonfirmasikan bahwa formasi yang aneh ini merupakan keadaan geologi yang umum terdapat di seluruh pegunungan Ararat. Itu bukan kapal Nabi Nuh.


Sumber :http://www.yaswarau.com/content/view/878/2/

Christian Answers Network
PO Box 200
Gilbert AZ 85299
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 2244
Registration date : 31.08.08

PostSubyek: Re: Topan Nabi Nuh   Wed Dec 24, 2008 12:17 am

HIKAYAT BANJIR DALAM QUR-AN & BIBEL



RIWAYAT BIBEL SERTA KRITIK-KRITIK YANG DITIMBULKANNYA

Penyelidikan tentang riwayat Banjir menurut Perjanjian Lama
dalam bagian pertama daripada buku ini telah menyampaikan
kita kepada pernyataan-pernyataan seperti berikut:

Dalam Bibel tidak hanya terdapat satu riwayat tentang
Banjir, akan tetapi terdapat dua riwayat yang disusun dalam
waktu yang berbeda:

RIWAYAT YAHWIST, DIBUAT PADA ABAD IX S.M.

Riwayat para pendeta (Sakerdotal), dibuat pada abad VI S.M.
Riwayat ini dinamakan "Sakerdotal" karena dibuat oleh
pendeta-pendeta pada waktu itu.

Dua riwayat tersebut tidak disusun terpisah akan tetapi
bercampur; unsur-unsur riwayat yang satu dicampur dengan
unsur-unsur riwayat yang lain, dalam paragraf-paragraf yang
sebagian berasal dari riwayat yang satu dan sebagian berasal
dari riwayat yang lain. Tafsiran Terjemahan kitab Kejadian
karangan R.P. de Vaux, Guru Besar pada Sekolah Bibel di
Yerusalem menunjukkan pembagian daripada paragraf-paragraf
antara dua sumber tersebut secara sempurna. Riwayat Banjir
ini dimulai dan diakhiri dengan paragraf Yahwist. Dalam
riwayat itu ada 10 paragraf Yahwist. Di antara tiap paragraf
dengan lainnya, diselipkan sebuah paragraf Sakerdotal. Jadi
jumlah paragraf Sakerdotal adalah sembilan. Mosaik teks
tersebut tidak menunjukkan keserasian kecuali dari segi
urutan riwayat, oleh karena terdapat kontradiksi-kontradiksi
besar antara dua sumber tersebut.

RP. de Vaux menulis: "itu adalah dua sejarah tentang
Banjir." Banjir dalam dua riwayat itu disebabkan oleh
faktor-faktor yang berlainan, dan panjangnya waktu
berlangsungnya, juga berlainan. Nabi Nuh dalam dua riwayat
itu juga memuatkan dalam perahu beberapa binatang yang
jumlahnya juga berlainan.

Menurut pengetahuan modern, dalam keseluruhannya riwayat
Banjir dalam Bibel tidak dapat diterima, karena dua sebab:

a. Perjanjian Lama melukiskan banjir itu melanda seluruh
dunia.

b. Paragraf-paragraf daripada sumber-sumber Yahwist tidak
menyebutkan waktu terjadinya banjir, sedangkan riwayat
Sakerdotal menyebutkan suatu waktu yang menurut sejarah
banjir dunia semacam itu tidak bisa terjadi.

Argumentasi yang menguatkan sikap tersebut adalah seperti
berikut:

Riwayat Sakerdotal mengatakan bahwa Banjir terjadi ketika
Nabi Nuh berumur 600 tahun. Kita mengetahui bahwa menurut
silsilah keturunan dalam fasal 5 dari kitab Kejadian (juga
menurut sumber Sakerdotal yang sudah dibicarakan dalam
bagian pertama dari buku ini). Nabi Nuh lahir 1056 tahun
sesudah Nabi Adam. Dengan begitu, maka Banjir itu terjadi
pada tahun 1656 sesudah Nabi Adam diciptakan. Di lain pihak,
jadwal silsilah keturunan Nabi Ibrahim dalam kitab Kejadian
(11, 10-32) menurut sumber yang sama memberi kesan kepada
kita bahwa Ibrahim lahir 292 tahun sesudah Banjir. Kita juga
mengetahui bahwa Ibrahim hidup sampai kira-kira tahun 1850
S.M. Dengan begitu maka Banjir terjadi pada abad XXI atau
XXII S.M. Perhitungan ini cocok dengan pernyataan
Bibel-Bibel kuno di mana kronologi nampak terjadi sebelum
teks Bibel tersebut, yakni pada waktu kejadian manusia
tentang Banjir menyebabkan bahwa kronologi tersebut diterima
oleh para pembaca tanpa dipertimbangkan.20

Bagaimana pada waktu sekarang orang dapat menggambarkan
bahwa Banjir sedunia membinasakan penghidupan di atas
seluruh bumi (kecuali penumpang Perahu Nabi Nuh) pada abad
XXI atau XXII S.M. Pada waktu itu di beberapa tempat di
dunia telah bekembang bermacam-macam peradaban yang
bekas-bekasnya kita lihat sekarang. Bagi Mesir umpamanya,
waktu itu adalah zaman yang menyaksikan akhirnya Kerajaan
lama dan permulaan Kerajaan Baru. Jika kita ingat sejarah
waktu itu adalah sangat lucu untuk mengatakan bahwa segala
peradaban telah dimusnahkan oleh Banjir.

Dengan begitu maka dan segi sejarah, kita dapat mengatakan
bahwa riwayat Banjir dalam Bibel bertentangan sekali dengan
pengetahuan modern. Terdapatnya dua riwayat adalah
bukti-bukti yang nyata tentang manipulasi manusia terhadap
Bibel.

RIWAYAT QUR-AN TENTANG BANJIR

Qur-an menyajikan versi keseluruhan yang berlainan dan tidak
menimbulkan kritik dari segi sejarah.

Qur-an tidak memberikan riwayat Banjir yang kontinyu.
Beberapa ayat membicarakan hukuman yang diberikan kepada
umatnya Nabi Nuh- Riwayat yang paling lengkap adalah surat
11 ayat 25 s/d 49. Surat 71 yang dinamakan surat Nuh
menceritakan Nuh memberi nasehat kepada umatnya, begitu juga
surat 26 ayat 105 s/d 112. Tetapi sebelum menyelidiki
kejadian itu, kita perlu menempatkan Banjir yang
diriwayatkan oleh Qur-an dalam hubungannya dengan
hukuman-hukuman Tuhan yang dikenakan kepada
kelompok-kelompok yang salah karena menyalahi perintahNya.

Jika Bibel menceritakan Banjir Dunia untuk menghukum seluruh
kemanusiaan yang tidak patuh, sebaliknya Qur-an menceritakan
bermacam-macam hukuman yang dikenakan kepada
kelompok-kelompok tertentu.

Surat 25 ayat 35 s/d 39 memberi contoh ...


Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al Kitab
(Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan
Harun saudaranya, menyertai dia sebagai pembantu.
Kemudian kami berfirman kepada keduanya: "Pergilah
kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat
kami." Lalu Kami membinasakan mereka
sehancur-hancurnya. Dan (telah Kami binasakan)
kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul.
Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan
(ceritera) mereka itu pelajaran bagi munusia dan
Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab
yang pedih. Dan (begitu pula Kami binasakan) kaum
'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass21 dan banyak
(lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum
tersebut."

Surat 7 ayat 59 s/d 93 mengingatkan kepada hukum-hukum Tuhan
yang menimpa kaum Nuh. 'Ad, Tsamud, Lut dan Madyan secara
terpisah.

Dengan begitu maka Qur-an menggambarkan Banjir sebagai suatu
hukuman yang khusus untuk kaumnya Nulz. Ini merupakan
perbedaan pertama yang pokok antara kedua riwayat.

Perbedaan pokok kedua adalah bahwa Qur-an tidak menempatkan
Banjir dalam suatu waktu dan tidak menerangkan berapa lama
Banjir itu berlangsung.

Sebab-sebab Banjir adalah hampir sama dalam Bibel dan
Qur-an. Riwayat Sakerdotal (Kejadian 7, 11) menyebutkan dua
hal: sumber-sumber, memancarkan air banyak sekali, dan
langit-langit mencurahkan lautan-lautan Qur-an menyebutkan
dalam surat 54 ayat 11 dan 12 sebagai berikut:


Artinya: "Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan
(menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan
bumi memancarkan mata air maka bertemulah air itu
untuk satu urusan yang sungguh telah d itetapkan."

Qur-an sangat jelas dalam menyebutkan isi perahu; Tuhan
memberi perintah kepada Nuh dan perintah itu dilaksanakan
dengan tepat dengan menempatkan dalam perahu beberapa macam
binatang yang akan langsung hidup.

Surat 11 ayat 40:


Artinya: "Hingga bila perintah Kami datang dan dapur
(permukaan bumi) telah memancarkan air, Kami
berfirman: Muatkanlah kedalam bahtera itu dari
masing-masing binatang sepasang (jantan dan
betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah
terdahulu ketetapan Kami terhadapnya dan
(muatkanlah) pula orang-orang yang beriman. Dan
tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali
sedikit."

Seorang anak Nuh yang mendapat laknat Tuhan telah
dikecualikan. Dalam hal ini ayat 45 s/d 46 dari surat
tersebut menceritakan bahwa permohonan Nuh kepada Allah
tidak dapat merubah keputusan Tuhan. Qur-an menyebutkan
bahwa di atas perahu, disamping keluarga Nuh minus anaknya,
terdapat pula beberapa penumpang yang percaya kepada Tuhan.

Bibel tidak menyebutkan orang-orang itu di antara para
penumpang-penumpang perahu.

Menurut riwayat Sakerdotal: Nuh, keluarganya sendiri dengan
tak ada kecualian, dan sepasang dari tiap-tiap jenis
binatang.

Riwayat Yahwist membedakan antara binatang-binatang suci dan
burung di satu pihak dan di lain pihak binatang-binatang
yang tidak suci. (Daripada binataing suci, perahu itu memuat
7 dari tiap jenis, jantan dan betina, dan dan yang tidak
suci hanya satu pasang).

Menurut ayat Yahwist yang sudah dirubah (Keluaran 7, 8),
sepasang dari tiap-tiap jenis, baik yang suci maupun yang
tidak suci.

Riwayat banjir itu sendiri dimuat dalam Qur-an surat 11 ayat
25 s/d 49, dan surat 23 ayat 23 s/d 30. Riwayat Bibel tidak
menunjukkan perbedaan yang berarti.

Tempat perahu itu berhenti, menurut Bibel adalah di gunung
Ararat (Kejadian 8, 4), dan menurut Qur-an tempat itu adalah
Joudi (surat 11 ayat 44). Gunung Joudi ini adalah puncak
tertinggi dari gunung-gunung Ararat di Armenia; tetapi tak
dapat dijamin bahwa tak ada perubahan-perubahan nama untuk
menyesuaikan antara kedua riwayat. R. Blachere berpendapat
seperti itu. Menurut dia, banyak nama Joudi di Arabia, jadi
persamaan nama mungkin buat-buatan.

Secara definitif, terdapat perbedaan antara riwayat Quran
dan riwayat Bibel. Perbedaan-perbedaan itu ada yang tak
dapat diselidiki secara ilmiah karena tak ada data-data
positif.

Tetapi jika kita harus menyelidiki riwayat Bibel dengan
perantaraan data-data yang jelas, kita dapat menyatakan
bahwa dalam meriwayatkan Banjir dalam waktu dan tempat
riwayat Bibel sudah terang tidak sesuai dengan hasil-hasil
penyelidikan pengetahuan modern. Sebaliknya, riwayat Qur-an
bersih dari segala unsur yang menimbulkan kritik objektif.

Antara waktu riwayat Bibel dengan waktu riwayat Qur-an
apakah manusia sudah memperoleh informasi yang memberi
penerangan tentang kejadian Banjir itu? Jawaban atas
pertanyaan itu adalah "Tidak," karena antara waktu
Perjanjian Lama dan Qur-an, satu-satunya dokumentasi yang
dimiliki manusia, tentang sejarah kuno adalah Bibel. Jika
faktor manusia tidak dapat menerangkan perubahan dalam
riwayat, yakni perubahan yang sesuai dengan pengetahuan
modern, maka kita harus menerima penjelasan lain, yaitu:
Faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian sesudah wahyu
yang ditulis dalam Bibel.


Ref:
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Sponsored content




PostSubyek: Re: Topan Nabi Nuh   Today at 7:25 am

Kembali Ke Atas Go down
 
Topan Nabi Nuh
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
www.paguyubanpulukadang.forumotion.net :: Dunia Iptek :: Astronomi-
Navigasi: